Memoar hari pertama SNMPTN.

Kegalauan melanda salah seorang murid saya. Ya, ia adalah satu dari ratusan ribu peserta ujian masuk tertulis perguruan tinggi negeri atau yang sekarang lebih dikenal dengan SNMPTN. Dengan bercucuran keringat, dia sampai di sekolah. Tampak sekali di wajahnya kegelisahan dan perasaan tak menentu. Komentar pertamanya adalah “Bahasa Inggrisnya susah! Wacananya panjang-panjang! Udah mumet duluan bacanya!”

Sambil membawa soal ujian, ia pun meminta saya mengoreksi hasil kerjaannya. Dari 15 soal, hanya benar sekitar 5 saja. Sementara ketika saya memeriksa soal TPA nya, 15 soal pertama tentang kebahasaan, jumlah benar 3 dengan skor 12, dan salah 12 dengan skor minus 12. Otomatis 15 soal pertama skornya NOL!

Setelah dilihat, memang sih wacana bahasa Inggrisnya setengah halaman kertas dengan bahasan yang jauh lebih ilmiah dibandingkan wacana yang pernah saya berikan sepanjang pembelajaran di kelas. Terkadang hal seperti ini yang bikin saya galau. Berdasarkan SK dan KD yang ada, pembelajaran bahasa Inggris SMK memang sedikit berbeda dengan SMA. Dan tentu saja, SK dan KD ini bertujuan akhir di Ujian Nasional. Saya yakin, ketika mereka mengerjakan ujian nasioanl tidak akan segalau mengerjakan SNMPTN karena memang materi soal yang diberikan sama dengan apa yang dipelajari dalam keseharian.

Sementara soal SNMPTN, sangat jauh dari yang mereka terima sehari. Dengan 15 soal wacana, siswa diharapkan mampu mengambil inti sari dari bacaan tersebut. Selain teksnya yang panjang-panjang, kosa kata yang digunakan pun lebih ilmiah. Ada banyak kosa kata yang tidak mereka pahami karena memang keseharian pembelajaran kami tidak sampai seilmiah itu. Kalau sudah begini, agak miris juga melihat anak-anak SMK harus berjuang sama dengan anak SMA sementara mereka tidak mendapatkan porsi materi yang sama atau bahkan tidak mendapatkan materi pelajarannya sama sekali. Misalnya: ketika anak SMK tertarik untuk masuk ke  jurusan IPA, semisal teknik, mereka tidak mendapat materi Kimia dan Fisika serta Biologi, sementara di ujain SNMPTN materi itu harus pula dikerjakan.

Mungkinkah mereka salah memilih sekolah menengahnya? Memang, ketika siswa memilih untuk melanjutkan ke SMK, seharusnya mereka paham bahwa sekolah kejuruan sudah memiliki tujuan yang jelas yaitu berkompeten di salah satu keahlian, entah teknik atau akuntansi. Nah, ketika di kuliah mereka mengambil jurusan IPA, semisal kedokteran, teknik, atau MIPA, tentu menjadi tidak nyambung dengan kompetensi yang mereka pelajarai sebelumnya di SMK. Seharusnya lulusan SMK memahami itu, jadi mereka bisa memilih jurusan di kuliahnya yang lebih sesuai dengan kompetensi mereka sebelumnya dibandingkan mengambil jurusan baru yang untuk mengikuti ujiannya saja butuh perjuangan ekstra keras, yang terkadang terkesan asal ikut saja dan tidak mengukur kemampuan.

Bukan bermaksud mengecilkan hati atau melarang anak SMK mengambil jurusan yang berbeda. Hanya saja agak repot dan terkesan muskil untuk bisa menembus ujiannya. Hal ini harus pula menjadi perhatian para orang tua untuk mengarahkan pendidikan anak-anak mereka. Pilihan pendidikan menengah atas harus sudah dipertimbangkan masak-masak. SMA memang berorientasi pada melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi (walaupun mungkin ada sebagian kecil yang tertarik untuk bekerja). Sementara SMK berorientasi pada bekerja dan berwirausaha, namun tetap memberikan peluang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Hanya saja, kita harus pandai dan lebih realitas memilih jurusan, karena ada beberapa materi pelajaran yang tidak dipelajari di SMK sementara di setiap SNMPT, mata pelajaran itu dikeluarkan. Peran orang tua sangatlah penting sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Selain itu, orang tua pun harus bisa melihat kemampuan dan minat anak-anak mereka. Ketika anak mereka sudah tidak memiliki hasrat dan minat untuk kuliah, mengapa juga harus dipaksakan? Daripada membuang uang dan tenaga serta waktu, ada baiknya orang tua memberikan kesempatan pada anak-anak mereka untuk bisa memilih jalan hidupnya. Ketika bekerja atau berwirausaha akan membuat anak-anak mereka lebih berkembang, kenapa tidak menjadi pilihan? Daripada memaksakan anak kuliah sementara si anak tidak tertarik lagi karena mereka mengukur kemampuannya yang tidak terlalu tinggi.

Tentu pemilihan kuliah atau bekerja, atau pun pemilihan jurusan dalam kuliah, harus bisa dibicarakan secara kepala dingin bersama si anak, orang tua dan pihak sekolah, sehingga tidak ada kejadian salah pilih jurusan atau pilih jalan hidup.