Jawabannya? Sangat erat!

Permen dan kembalian bagaikan yin dan yang. Mereka saling melengkapi. Tidak ada kembalian, permen pun jadi gantinya. Istilah kata, permen itu ben serep. Entah sejak kapan sistem uang kembalian kadang tergantikan oleh permen. Yang pasti ini sudah terjadi beberapa tahun silam. Saya pikir sejak munculnya mart-mart kecil di setiap pelosok ruko-ruko yang semakin ngampar bak kacang rebus yang dijual di pinggir jalan.

Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang mendapat kembalian berupa 1 hingga 3 buah permen. Hampir sebagian besar masyarakat yang pernah berbelanja di supermarket, entah kecil ataupun besar,pernah mengalami hal yang sama. Awalnya sempat bingung, tapi lama kelamaan koq ya jadi terbiasa. Hanya saja, saya sempat kepikiran “koq saya mau saja ya kembaliannya dikasih permen, padahal saya lagi butuh uang receh juga?” Kadang jengkel juga sih, tiga kali belanja di mart yang sama, tiga kali pula kembalian saya ditambahkan dengan beberapa butir permen. Maunya sih balik bilang “mba/mas, mba kan sering tuh kasih kembalian permen, kalau nanti saya bayar pake permen, mau gak?” Tapi, sayangnya saya bukan termasuk orang yang tega bilang ke petugas kasirnya. Entar malah ribut lagi! hehehhe…

Mungkin ada di antara Anda yang pernah melakukannya? Balik menanyakan hal tersebut? Atau mungkin pula ada yang mau coba bereksperimen? Hanya sekedar penasaran saja, apa reaksi mereka ya?šŸ™‚

Kadang suka heran aja, mereka yang buat harga-harga yang dipasang itu ganjil, dari harga 930 rupiah hingga 11.235 rupiah, bahkan kadang sering muncul harga senilai 9999 rupiah! Mau bilang 10000 aja susahnya minta ampun ya? Trik para pengusaha mart yang kadang bisa mengecoh pembeli yang mungkin saking terburu-buru hanya melihat angka paling depan saja.

Tapi mereka sendiri yang tidak siap dengan kembalian alias uang recehnya. Saya rasa kalau susah mencari uang kecil, lebih baik pasang harga yang genap-genap saja, misalnya kelipatan limapuluhan, seratusan, atau ribuan. Jadi kan gak perlu mengembalikan dengan butiran permen. Kalau permen yang diberikan yang kita suka, kalau gak? Yang ada, di tas saya suka numpuk permen-permen hasil kembalian yang kadang terlupakan tak pernah dikonsumsi!

Jadi hubungan permen dengan kembalian? gak ada uang receh, permen pun jadi lah!