Berhubung ada saran dari psikolog anak saya untuk mencari sekolah baru, akhirnya saya pun langsung bertanya ke teman-teman saya, kira-kira sekolah apa yang cocok dan terbaik buat anak saya. Menurut psikolog, secara akademis, seharusnya anak saya tidak bermasalah. Dia didiagnosa bermasalah di emosinya dimana sulit baginya untuk mengontrol emosi yang terkadang akhirnya dia akan melakukan tindakan tidak baik jika merasa terusik.

Saran dari psikolognya, saya harus mencari sekolah yang minimal memiliki guru pendamping atau shadow teacher, lebih bagus lagi jika ada psikolog. Dan syarat yang lainnya yaitu kelas dengan jumlah siswa sedikit, atau kelas kecil. Dan perlu dicatat, bahwa sekolah yang dimaksud adalah bukan Sekolah Luar Biasa. Sekolah itu haruslah tetap sekolah umum namun yang memang bisa menerima anak dengan kebutuhan khusus, karena menurut psikolog, anak dengan emotional problem termasuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).

Saya pun mencoba mencari tahu lebih banyak lagi info dan salah satu cara cepat adalah dengan menuliskan status di facebook. Benar saja, tak berapa lama, banyak masukan dari beberapa teman tentang sekolah yang saya cari. Awalnya lebih banyak menyebutkan sekolah-sekolah luar biasa, namun tetap saya tampung usulan mereka. Sambil tetap googling, saya pun menemukan istilah “sekolah inklusi”. Penasaran, saya pun membuka beberap tulisan yang membahas tentang sekolah inklusi tersebut. Dan setelah saya pikir, mungkin yang dimaksud dengan psikolog anak saya adalah sekolah inklusi.

Saya sebagai seorang guru baru mendengar ada yang namanya sekolah inklusi. Dari beberapa tulisan yang saya baca, sekolah inklusi adalah sekolah umum biasa yang mau dan bisa menerima anak dengan kebutuhan khusus, baik berkebutuhan khusus dari segi fisik maupun dari segi mental. Artinya sekolah inklusi bisa menerima anak dengan tuna netra sampai tuna grahita, bahkan bisa menerima anak autis, hiperaktif dan ADHD.

Sekolah inklusi dicanangkana berdasar pada UUD yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan ini bukan berarti pemisahan atau pengotakan antara anak-anak berkebutuhan khusus (difable) dengan anak-anak normal (non difable). Tetapi bagaimana satuan pendidikan mampu memberikan kesempatan kepada ABK untuk bisa mengecap dan merasakan pendidikan bersama dengan anak-anak normal, walaupun bagi mereka, target yang diterapkan berbeda dengan anak-anak regular.

Karena hak untuk bisa bergaul dengan anak-anak normal inilah, maka sekolah inklusi memberikan tempat bagi mereka. Tentunya ada berbagai kesiapan dan fasilitas yang harus disediakan bagi sekolah inklusi ini, diantaranya adalah penyediaan ruang terapi, penyediaan shadow teacher dan atau psikolog. Pihak sekolah juga harus menyiapkan kurikulum yang sedikit berbeda bagi ABK ini. Misalnya, bagi anak normal, jam belajar matematika cukup dengan 6 jam saja, maka bagi ABK (sesuaikan pula dengan tingkat IQ dan kemampuannya) belajar matematika bisa ditambah menjadi 8 hingga 16 jam. Untuk ujian nasional pun, ABK tidak diwajibkan mengikuti ujian nasional.

Sayangnya, berdasarkan masukan dan informasi beberapa rekan, masih banyak sekolah inklusi yang belum sepenuhnya menerapkan fungsinya sebagai sekolah inklusi yang wajib memandang setiap anak unik sehingga bisa menyediakan pembelajaran yang unik pula bagi setiap individu. Sekolah Inklusi baru sekedar nama, terutama sekolah-sekolah negeri, karena guru-gurunya belum dibekali dengan kompetensi sebagai guru untuk ABK dan minimnya informasi tentang bagaimana sebaiknya sekolah inklusi itu dijalankan. Selain itu, guru-guru sekolah negeri masih berpatokan pada kurikulum diknas, padahal untuk sekolah inklusi, mereka harus memiliki kurikulum yang lebih luas.

Sekolah inklusi yang cukup berkembang adalah sekolah dengan titel swasta, yang umumnya, dengan biaya yang tidak murah pula. Bagi orang tua dengan penghasilan secukupnya, tentu tidaklah mampu menyekolahkan anaknya di sekolah mahal itu. Untuk itu, saya berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih bagi program sekolah inklusi ini, terutama penerapannya yang tepat dan benar di sekolah yang memang menjadi sekolah inklusi. Dan tentunya harapan saya gantungkan pula kepada sekolah-sekolahyang katanay bagus untuk bisa menerapkan program inklusi ini sehingga semaki banyak kesempatan diberikan kepada ABK untuk berinteraksi dengn masyarakat luas dan dunia luar, tidak melulu berinteraksi dengan sesama ABK.

Masih menanti informasi sekolah inklusi yang bagus di daerah Tambun, Bekasi.