Sering terdengar guyonan orang tentang orang-orang peranakan Tionghoa alias orang China. Setiap ketemu dan kenal sama orang China, pasti pertanyaannya sama “punya toko di Mangga Dua ya?” atau “Mangga Dua nya sebelah mana nih?” walaupun sebenarnya kawan itu malah gak ada hubungannya sama Mangga Dua, dan bukan pedagang pula. Tapi, entahlah, kenapa banyak orang yang sering guyon seperti itu ya? Apa memang Cina itu identik dengan pedagang-pedagang di Mangga Dua? Atau sebaliknya, Mangga Dua identik dengan banyaknya pedagang Tionghoa. Yang pasti, setiap menyebut China, orang akan berasumsi pedagang di Mangga Dua, atau Mangga Dua banyak Cinanya.

Sebenarnya asumsi itu tidak 100% salah sih. Bagi Anda yang sering belanja di Mangga Dua pastilah sangat paham siapa saja yang ada di sana. Kalaupun tidak bisa dibilang 100 persen pedagang di Mangga Dua adalah orang Cina, tapi bisa dipastikan sebagian besarnya adalah orang Cina. Berdasarkan sejarah, memang orang Cina adalah pedagang-pedagang ulung yang termahsyur di luar pedagang Gujarat dan India. Lihat saja bagaimana kita temukan di berbagai pelosok pasar, pasar manapun di Indonesia, maka pemilik toko-toko terdepannya adalah orang Cina. Tidak mengherankan memang jika Cina terkenal sebagai pedagang ulung. Dengan konsep harga miring, yang penting untung, Cina telah menjadi ikon pedagang sukses di Indonesia.

Bahkan seorang Daniel Mananta, presenter tenar Indonesia pun ternyata produk dari Mangga Dua. Keluarga besarnya turun menurun menjadi pedagang di Mangga Dua. Dan, Daniel pun pernah mengalaminya, beradu argumen dengan enci-enci pembeli hingga rasanya mau bunuh diri, kelakarnya di acara Hitam Putih yang dipandu oleh Deddy Corbuzier. Bahkan menurutnya, setinggi apapun pendidikan keluarganya, hingga sekolah ke luar negeri pun, pada akhirnya mereka akan membuka toko dan menjadi pedagang. Daniel adalah salah satu anggota keluarga yang sedikit melenceng dari garis keumuman.

Tapi memang benar kata pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Walaupun tidak lagi di Mangga Dua, Daniel Mananta ternyata juga mengikuti jejak keluarga besarnya berdagang dan memiliki outlet pakaian dengan merek dagang “DAMN, I LOVE INDONESIA”. Dengan konsep cinta produk dalam negeri, namun dengan menghargai karyanya jauh lebih mahal dibanding produk lainnya, Daniel berharap bahwa orang Indonesia mau menghargai karya bangsanya sendiri dengan berani menjual barang dengan label mahal asalkan dengan kualitas premium. Sehingga, produk Indonesia tidak lagi dianggap produk murahan yang dipandang sebelah mata oleh bangsanya sendiri.

Saya rasa banyak sudah para insan kreatif yang berhasil menjual merek dagangnya dengan produk-produk yang tidak beda dengan produk buatan luar negeri. Kini geliat usaha para enterpreneur muda semakin menambah khasanah produk-produk buatan lokal yang kreatif dan inspiratif. Salah satu produk asli Indonesia adalah Buatan Bandung Bagus-Bagus, yang memproduksi kaos-kaos dengan mengambil tema “sunda”, baik dari segi bahasa maupun dari segi ide tulisannya.

Hal ini patut dijadikan rujukan usaha bagi para pemuda-pemudi Indonesia yang kreatif dan berani menghadapi tantangan dunia usaha yang semakin meriah dan penuh dengan usahawan-usawahan muda nan kreatif. Tentunya kita bisa banyak belajar dari para warga keturunan Tionghoa yang sangat sukses di bidang usaha mereka, yaitu menjadi pedagang.