Judul buku karanagn Munif Chatib “Gurunya Mausia” itu membuat saya penasaran. Lumayan menggelitik dan berbeda dibandingkan judul buku lainnya. Apa yang maksud dari judul itu? Menurut ketua IGI Pusat Jawa Barat, gurunya manusia adalah guru yang ikhlas dan mau belajar, terutama untuk sesuatu yang baru. Gurunya manusia itu sabar dalam mengajar dan mampu menerima murid dalam berbagai karakter. Gurunya manusia itu profesional dan mengenal konsep bahwa “setiap anak adalah JUARA”.

Bagi Munif Chatib sendiri, si pengarang buku ini, ia sangat mempercayai konsep “setiap anak adalah bintang”. Tidak ada anak yang tidak baik, tidak ada pula anak yang tidak pintar. Ketika kita memperlakukan anak sebagai bintang, maka akan lunturlah konsep-konsep negatif yang menempel di diri anak-anak kita. Maka ubahlah penilaian negatif kita menjadi penilaian positif. Misalnya: ketika kita menemukan ada anak yang suka memerintah, kita bisa bilang “pagi, calon jenderal hebat!” Atau ketika ada anak yang lebih senang berdiam diri, maka kita bisa sebut “selamat pagi, duhai pemikir ulung!” Karena uacapan-ucapan positif kita akan mampu membentuk kepercayaan diri mereka. Bandingkan jika kita mengucapkan “Nah, ini dia nih yang suka merintah! Mau jadi apa kamu?” atau “wah, si tukang diem seribu bahasa!” tentu akan memiliki rasa dan respon yang berbeda dari anak didik kita.

Munif Chatib juga mengajak kita untuk membuka 5 bingkisan terindah bagi anak dan peserta didik kita. Bingkisan yang jika kita buka, kita akan merasakan sensasi rasa berbeda yang ditimbulkan dan ditujukan kepada kita dari anak atau peserta didik kita. Kelima bingkisan itu adalah:

1. BINTANG, yaitu memandang setiap anak yang dilahirkan adalah JUARA (pintar, cerdas dan bintang). Bagaimana tidak disebut juara, anak kita adalah pemenang dari beribu-ribu pejuang jantan yang harus menembus rintangan membuahi sel ovum. Dan hanya ada satu pemenang dari si jantan, yaitu anak-anak kita. Tanpa kita sadari, anak kita telah menjadi pemenang bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia. Tips yang harus kita terapkan adalah pertama kita harus mengklik alam bawah sadar kita dengan tombol “ON” dalam posisi BINTANG. Kedua, kita harus meruntuhkan barrier atau penghalang terhadap berbagai aktivtias yang ada dalam proses belajara. Bagaimanapun kondisi anak atau peserta didik kita, mereka adalah juara dan berhak atas pendidikan formal di sekolah.

2. SAMUDRA, yaitu memahami kemampuan dalam arti luas, tidak terkotak-kotak dan hanya fokus pada satu ranah kemampuan sementara ranah lainnya tidak dilirik dan tidak mendapat di hati para guru dan orang tua. Kemampuan dalam diri peserat didik kita ada tiga:

– Akhlak-afektif atau bisa disebut respon adalah sebuah kemampuan, namun sedikit sekali yang mengakuinya.

– Kreativitas – psikomotorik adalah kemampuan menghasilkan sebuah karya, apapun itu.

– Kognitif, yang disalahartikan, dipersempit menjadi tes-tes tertulis dan dikelompokkan.

Masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang masih memaksakan kehendak yang pada akhirnya akan memicu kemunduran akhlak dan kreativitas.

Berhubungan dengan kognitif, ada beberapa syarat yang harus diterapkan yaitu:

1. Raport kita harus berdasarkan pada nilai komprehensif 3 ranah.

2. Adanya pameran produk, sebagai hasil dari ranah psikomotorik

3. Tidak ada sistem ranking, sehingga tidak ada anak yang merasa dipermalukan ketika nama disebutkan dan dia tidak terdapat dalam daftar anak-anak dengan nilai memukau.

3. HARTA KARUN, bahwa setiap anak cerdas dengan multiple intelligence. Di bukunya tersebut, Pak Munif meredefinisi kecerdasan yaitu kegiatan perilaku yang diulang-ulang. Ada dua ciri dalam bingkisan harta karun itu, keduanya adalah creative dengan cara membuat sesuatu yang baru dan juga dapat menyelesaikan masalah sendiri atau problem solving misalnya mengecat rumah, naik tangga sendiri, mau nyebrang, dll. Pada intinya, jika otak mendapat stimulus yang kurang tepat, maka tidak akan terjadi sebutan bahwa dia adalah anak bodoh. Menurut Munif Chatib, tidak ada manusia bodoh, yang ada hanyalah manusia yang tidak mendapat stimulus yang benar.

4. PENYELAM (Discovery Ability), adalah bahwa kita harus menjelajahi kemampuan anak kita meskipun sekecil debu. Beri apresiasi yang meriah meskipun hanya sebatas ciuman, pelukan dan lain-lain. Tapi terkadang orang tua kurang peka terhadap hal-hal positif, mereka lebih suka berkecimpung di ranah abu-abu.

5. BAKAT (potensi, hobi, bakat, minat, niat, profesi). Bakat dapat terlihat dari kesukaan peserta didik kita. ciri-ciri hobi yang menjadi profesi adalah ketika kita usaha dan esukaannya itu bisa diambil orang lain.

Pada akhirnya, dalam gurunya manusia, gaya belajar guru harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Jika tidak, pelajaran akan terasa sulit.

Topik menarik ini disampaikan oleh bapak Munif Chatib langsung di acara Seminar dan Workshop “Gurunya Manusia” yang juga diambil dari buku karanagan Munif Chatib dengan judul yang sama. Seminar dan workshop ini adalah event ke sekian kalinya dari IGI Bekasi, yang mampu menarik minta sekitar 300an orang guru se-kota dan kabupaten Bekasi. Bahkan ada guru yang datang jauh dari Sukabumi dan Tasik Malaya. Diselenggarakan pada hari ini, Minggu 27 Mei 2012 bertempat di Aula KH Noer Ali, Islamic Center, seminar ini sangat menarik dan cukup puas.

Selamat semangat!๐Ÿ˜€