Napak tilas pertemananku dengan sahabat yang bernama “internet”.

Entah internet sudah ada sejak kapan, yang pasti yang saya ingat, saya kenalan dengan dia sekitar tahun 1998an, sewaktu masih jadi anak kuliahan yang kata banyak orang masa menonjolkan diri. Saat itu di perpustakaan kampus sastra baru saja dipasang komputer lengkap dengan jaringan internetnya. Karena barang baru, kebayang kan seberapa antri tuh komputer di perpus. Pertama kali yang saya lakukan adalah membuat alamat email. Namanya masih katro, rasanya bikin email itu setengah mati. Maklum, megang mouse nya aja masih kagok gitu. Alhasil, membuat email pun jadi ajang perdebatan seru dengan teman-teman seperjuangan.

Karena tingkat penggunaan internet saat itu masih sangat jarang, saya pun ga kebayang apa saja yang ada di internet. Apalagi tentang hal-hal yang berbau pendidikan, zero pisan lah. Perkenalan saya yang kedua setelah email adalah mIRC, module Internet Relay Chat, yang saat itu lagi booming. Warnet-warnet di sepanjang jalan Margonda, yang belum terlalu menjamur seperti saat ini, selalu dipenuhi oleh mahkluk-makhluk manis penghuni kampus. Dengan sistem booth pribadi, saya pun asyik berchatting ria dengan orang-orang yang juga tidak ada kerjaan saat itu, alias gak sibuk! Kalau sibuk, gak mungkinlah bisa chattingan berjam-jam lamanya. Saat itu biaya ngenet masih sekitar 8000/jam. Bayangkan kalau kita bisa ngenet sampai 3 jam lamanya, habislah uang saku sebsar 24000 rupiah! Maklumlah anak kos, pasti perhitungan sama yang namanya uang. Karena memang chat via mIRC bisa lupa waktu dan lupa makan. Sampai saya lulus kuliah, internet baru sebatas media untuk bersenang-senang saja.

Hingga saya lulus kuliah, dan memutuskan untuk menjadi guru, pemanfaatan internet masih sebatas email dan chatting. Perubahan diawali pada sekitar tahun 2007 ketika internet sudah sangat booming. Dan saya sudah kembali memanfaatkan internet sejak memiliki laptop pertama saya. Penggunaan internet pun tidak lagi sebatas untuk email dan chatting, tetapi sudah merambah ke social media, saat itu yang tenar adalah friendster dan diikuti dengan facebook. Saya sendiri baru mengenal facebook sekitar tahun 2009. Karena facebook inilah saya kemudian aktif berselancar di dunia maya.

Tidak hanya facebook, saya pun mulai mencari berbagai bahan dan materi mengajar dari internet. Ternyata, materi yang saya cari sangat banyak ditemukan di internet. Berhubung saya mengampu mata pelajaran bahasa Inggris, maka tidak lah heran jika berbagaisumber belajar dan materi dapat kita temukan di internet yang nota bene berbahasa Inggris. Sejak itulah kemudian saya mulai terbuka, bahwa internet bukan hanya bisa dimanfaatkan sebagai ajang sosialisasi atau bersenang-senang saja. Tapi banyak sekali pembelajaran yang bisa kita ambil darinya. Esl-lab.com adalah salah satu site favorite saya untuk pembelajaran listening, khususnya.

Salah satu link favorit saya🙂

Hampir dua tahun lamanya memanfaatkan internet untuk mencari sumber dan media belajar, saya merasa ada yang kurang. Saya mulai tertarik di dunia tulis menulis. Saya pun memanfaatkan fasilitas “write a note” yang ada di facebook. Saya lebih sering menulis catatan harian atau pun fiksi di sana. Senang rasanya ketika banyak orang yang mengapresiasikan hasil karya tulisan kita. Saya pun mulai menekuni kegiatan dan hobi baru saya ini.

Hingga di tahun 2010 lalu, saya dikenalkan dengan yang namanya “Blog”. Pada awalnya gak ngerti sama sekali dengan blog, tapi setelah diotak-atik ternyata ga sesulit pada awalnya. Blog pertama saya adalah nouraloveray.blogspot.com. Isinya masih curahan hati dan fiksi, bahkan banyak juga note saya yang di facebook saya pindahkan ke blog dengan maksud agar mudah menyimpan datanya dalam satu wadah.

Saya mulai beralih ke wordpress.com setelah mengikuti training menulis di rumah perubahan bulan Juni tahun 2011. Di sana kami dikenalkan dengan beberapa situs penyedia layanan blog gratisan. Maklum lah masih amatir, kalau pakai blog berbayar, masih belum siap dengan rutinitas menulisnya. Khawatir kalau sedang sibuk, aktivitas kita tertunda sehingga tidak bisa mengisi blog kita dengan postingan-postingan kita.

WordPress adalah salah satu penyedia layanan blog gratisan itu. Dibandingkan blogspot, saya merasa wordpress lebih simpel dan sederhana, entah bagi orang lain. Akhirnya saya pun membuat account di wordpress.com dengan alamat nunungnuraida.wordpress.com. Tulisan-tulisan saya pun lebih kepada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan. Sebagai seorang guru, sudah sepantasnya kita aktif menulis, karena guru diwajibkan melakukan peneliltian tindakan kelas untuk meneliti dan mendeteksi kekurangan apa yang kita alami selama mengajar.

Semakin sering dicanangkan oleh pemerintah bahwa pembuatan PTK merupakan syarat wajib bagi kenaikan pangkat dan golongan, maka semakin banyak guru yang tertarik untuk mengembangkan kesukaan dan atau keahlian mereka menulis.

Menulis di blog bukan lagi barang mahal yang sulit dilakukan. Sebagai guru era baru, kita harus mampu memanfaatkan teknologi internet yang semakin canggih. Dengan melatih menulis, apapun tema dan gaya tulisan kita, kita sudah mulai membantu gerakan guru menulis dan melek internet. Dengan begitu, pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran akan terus berkembang. Kita bisa menuliskan rangkuman materi belajar kita di kelas, atau kita bisa meminta siswa untuk mengirimkan tugas mereka di blog, bahkan kita bisa mengupload berbagai jenis sumber belajar seperti video, musik, ataupun sekedar dokumen berbentuk word atau excel. Dengan begitu kita bisa memanfaatkan keberadaan internet secara maksimal.

Dalam perjalanan saya mengikuti berbagai seminar, sampailah saya pada pelatihan guru ngeblog. Just like what I am looking for! Persis seperti apa yang saya idamkan. Akhirnya saya bisa mengikuti satu training yang sangat mengesankan dan menambah mata semakin melek internet. Bertempat di gedung walikota bekasi, pelatihan itu menghadirkan pembicara yang sangat ahli di bidangnya. Sebut saja ada Yudistira Massardi, Amril Gobel, Dedi Dwitagama, hingga Wijaya Kusumah yang lebih dikenal dengan Om Jay.

Om Jay ternyata adalah seorang guru biasa yang berprestasi luar biasa. Beliau adalah guru Lab School. Kehebatannya terletak pada kejeniusannya mengelola blog pribadinya yaitu wijayalabs.com hingga menjadi blog terbaik. Beliau pun pernah menjuarai lomba Guru Era Baru yang penilaiannya dilihat dari blog pribadi yang populer dan bermanfaat. Selain itu, Om Jay ini adalah penulis yang handal. Beliau telah menerbitkan beberapa judul buku hasil dari kumpulan tuisannya yang dia posting di kompasiana.com, salah satu blog keroyokan warga, atau yang lebih dikenal dengan citizen journalism. Diantara judul-judul bukunya yang sudah saya miliki dan baca adalah “Guru Tangguh Berhati Cahaya“, “Menulislah Setipa Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi“, dan buku tentang Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan kerja sama dengan Pak Dedi Dwitagama.

Salah satu bukunya yang berjudul “Guru Tangguh Berhati Cahaya” menjadi inspirasi bagi saya. Bagaimana kita sebagai guru harus bisa mendidik dengan hati, tidak saja mengajar. Tunjukan kita peduli pada anak didik kita, cukup dengan senyuman, maka kita akan mendapatkan respon berupa senyuman terindah dari mereka. Bukankah ada pepatah mengatakan “apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”. Jika kita menanamkan rasa sayang dan peduli pada anak didik kita, maka sayang dan peduli lah yang dikembalikan ke kita oleh mereka. Banyak yang bisa kita gali dari pengalaman-pengalaman Om Jay sebagai pendidik yang tentu bisa kita jadikan satu contoh dan referensi bagaimana sebaiknya seorang pendidik itu bersikap dan bekerja berdasarkan hati.

Berikutnya, hari-hari saya dipenuhi dengan jadual seminar dan training menulis. Dengan tekad dan niat untuk menulis demi pendidikan, saya pun dengan antusias mengikuti berbagai pelatihan. Tidak ada istilah rugi ketika kita menghadiri seminar atau pelatihan dengan materi yang mirip atau sama. Minimal kita akan selalu mengupdate pengetahuan kita sendiri.

Percaya atau tidak, ternyata masih banyak guru yang belum melek teknologi dan internet. Hal itu saya dapatkan dari keikutsertaan saya bersama IGI Bekasi mengadakan pelatihan menulis sebagai pemandu peserta. Banyak ditemukan guru-guru yang baru pertama kali memegang laptop, apalagi  browsing di internet. Bahkan membuat email saja butuh waktu yang cukup lama. Selama ini, email yang mereka miliki memang dibuatkan oleh murid-murid atau keluarga terdekat yang bisa komputer.

memandu pelatihan ICT dasar

Tentu kita harus bisa menjangkau guru-guru konvensional ini sehingga mereka tidak ketinggalan teknologi dan buta sama sekali dengan internet. Karena kita tahu, pendidikan bukan lagi monopoli guru dan buku-buku referensi saja. Dengan adanya internet, dunia menjadi tak terbatas. Siswa kita bahkan bisa jauh lebih hebat dari kita jika menyoal tentang melek teknologi dan internet. Jika kita tidak mau belajar, bagaimana kita bisa menyeimbangkan pengetahuan kita dengan apa yang didapat anak didik kita dari internet.

Untuk itu, pendidikan saat ini tidak lagi bersifat dua arah, tapi lebih kepada diskusi panjang, dan guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Sementara untuk masalah materi belajar, anak didik tinggal mencarinya di internet. Nah, dengan blog yang kita miliki, kita bisa menjadi pelopor dan penyemangat bagi anak-anak untuk lebih percaya diri berselancar di internet.

Kesuksesan Om Jay dalam hal tulis-menulis dan mengelola blog pribadinya, wijayalabs.com, bisa menjadikan satu contoh dan panutan bagi para guru di tanah air, bahwa seorang guru pun bisa menjadia hebat dan populer dikarenakan hasil karya nya yang mampu memberikan energi positif bagi para pembacanya. Dengan keberadaan blog pendidikan asuhan om Jay ini, diharapkan guru, khususnya mungkin guru TIK, bisa belajar banyak dan tentunya blog ini menjadi oase tersendiri di antara berjamurnya blog-blog yang ada di internet, karena blog pendidikan masih sangat jarang ditemukan, apalgai yang dibuat oleh guru.

Belajar menulis memang tidak gampang, namun jika dikerjakan setiap hari, maka kemampuan menulis dan bekerjanya otak kita akan semakin terasah, seperti apa yang dituliskan di bukunya Om Jay yang bertajuk “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi!”

Gerakan menulis ini sangat dibutuhkan bagi para guru sehinga mereka bisa lebih mengembangkan diri dalam proses KBM nya. Dengan menulis, guru diharapkan mampu mengungkapkan ide dan pengalaman belajarnya untuk kemudian diteliti dan dicari tahu metode dan strategi terbaik lainnya yang bisa kita terapkan di kelas. Pemanfaatan internet pun saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan. Untuk itu, guru melek internet menjadi satu awal perubahan menjadi guru era baru yang mampu memanfaatkan segala proses kreatif dan belajarnya dengan menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang menyenangkan namun tetap berterima secara prosesnya.

Saya sudah mulai mengikuti trik dan tips Om Jay yang ada di blog pribadinya  terhadap tulisan-tulisan saya. Dengan begitu saya berharap bahwa apapun hasil atau ide tulisan kita menjadi satu oase bagi para pembaca setia saya. Semakin banyaknya seminar dan pelatihan yang diselenggarkan untuk mengakomodir kebangkitan guru dalam mengkampanyekan “guru menulis” dan “melek internet” menjadi satu bukti bahwa guru siap berubah ke arah yang lebih baik. Semoga saja semakin banyak guru-guru dengan ide-ide hebat mereka yang mampu menuliskannya dalam sebuah buku seperti guru besar kita, Om Jay.

Penulis bersama Om Jay di TOT Purwakarta