Ada-ada saja tingkah polah anak-anak remaja di Indonesia. Sebagai anak yang baru gede alias sedang puber, mereka cenderung mulai tertarik dengan lawan jenis. Mulailah pencarian pacar dicanangkan. Tak berbeda pula dengan anak-anak bimbingan saya di sekolah. Berhubung mereka mengambil jurusan akuntansi, maka sangat sedikit sekali peminat dengan jenis kelamin laki-laki. Alhasil, untuk tahun angkatan ini tidak ada satu pejantan pun di kelas akuntansi. Nah, karena isinya kaum hawa semua, kebayang kan gimana suasana dan kondisi kelas? Ramai dengan teriakan, cekikikan, tertawa dan kecentilan mereka. Ketika saya tanyakan kepada mereka, mereka malah jawab, “Makanya, mam, minta anak cowok donk di kelas, jadi kita kan pada jaim (jaga imej) tuh, ga kayak cacing kepanasan, mam!”

Mendengar jawaban mereka saya hanya tersenyum geli. Oh, jadi begitu ya pemikiran remaja-remaja sekarang. Memang sih, kelas yang berisi kaum hawa semuanya terasa kurang greget. Ga ada gelombang dan getaran-getaran kejantanan di sana. Bahkan saking pinginnya ada cowok di kelas mereka, mereka kadang jalan-jalan ke kelas sebelah yang kaum adamnya bisa dibilang lebih banyak berhubung jurusannya adalah teknik komputer jaringan. Sempat ada yang nyeletuk, “kita bagaikan pohon kaktus yang tumbuh di padang pasir, mam, tandus dan kering! butuh oase nih!”

Nah, satu ketika ada kejadian yang cukup menggelikan mengenai kesukaan mereka dengan lawan jenis. Yang namanya anak sedang jatuh cinta atau sedang kasmaran, mereka pasti akan mengungkapkan rasa mereka itu dimana saja. Ada yang menulis di buku diarinya yang lebih private, ada juga yang menuliskannya di update status FB, bahkan tak jarang ditemukan coretan-coretan cinta di meja, kursi, tembok dan papan tulis.Kalau di papan tulis, akan mudah dihapus. Tapi kalau sudah di meja, kursi dan tembok, wah bakalan repot deh!

Satu lagi yang unik, ada seorang anak yang menuliskan rasa cintanya di telapak kaki! Koq bisa ketahuan ya? Ceritanya salah satu anak bimbingan saya sakit, akhirnya dibawalah ke ruang UKS. Sambil tiduran dan menahan sakit, saya pun berusaha membantu memijat-mijat badannya. Ada tiga orang kakak kelas yang masuk dan melihat serta menanyakan siapa yang sakit. Tiba-tiba, satu orang dari mereka tertawa cekikikan. Kami pun menoleh dan ikut tersenyum geli ketika ia menunjukan musababnya. Ia melihat ada tulisan “Rani love Adit” (bukan nama sebenarnya) di telapak kaki kanan si anak yang sakit itu. Mengingat si anak ini menangis kesakitan, kami pun berusaha menawan tawa dan tidak ingin membuatnya malu. Namun, tawa kami pecah setelah si anak diantarkan pulang oleh teman sekelasnya. [Maaf ya neng, kamu lucu sih!:) ]

Gak nyangka ya? Ternyata anak-anak kita sangat kreatif mengungkapkan perasaan mereka. Sampai-sampai telapak kaki pun bisa menjadi curahan hati mereka. Ada-ada saja kelakuan para ABG galau itu. Kira-kira dimana lagi ya mereka menuliskan kata-kata cintanya? Jadi penasaran saya…