Bicara tentang perempuan berarti bicara tentang ibu, istri, nenek, anak gadis, dan tkw. Tentang istri pun kita masih bisa membagi bahasan menjadi dua topik besar, istri sebagai ibu rumah tangga dan istri yang berkarir di luar rumah.

Ibu rumah tangga adalah posisi perempuan tertinggi. Level profesi teratas di antara profesi-profesi lain yang diemban oleh para perempuan. Bagaimana tidak? Ibu rumah tangga merangkap berbagai jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh berbagai jenis profesi.  Jika ayah berperan sebagai kepala rumah tangga, maka ibu adalah kepala URUSAN rumah tangga.

Ibu itu manajer. Ia yang mengatur segala urusan rumah tangga, dari mengatur keuangan, mengatur kebutuhan, mengatur waktu, hingga mengatur housekeeping.

Ibu itu seorang akuntan. Ia harus bisa memanfaatkan keuangan yang diterima dengan tepat. Seberapa besar ia keluarkan untuk biaya sandang, pangan, papan. Seberapa banyak ia alokasikan untuk pendidikan dan kesehatan. Seberapa rupiah ia sisihkan untuk tabungan dan hiburan. Ia harus bisa menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran. Saya rasa seorang akuntan bisa kalah rapih dengan seorang ibu rumah tangga yang di luar kepala sangat hapal sekecil apapun pengeluaran yang dilakukan.

Ibu seorang pendidik. Di mulai dari kandungan, ibu telah diwajibkan menjadi pendidika bagi calon anaknya kelak. Ibu harus mampu menjaga perilaku, perkataan dan pikirannya selalu dalam keadaan positif sehingga ia akan menularkan aura positif itu kepada anak-anaknya kelak. Ibu lah yang mengenalkan dunia untuk pertama kalinya pada anak-anaknya. Ia yang mengajarkan kasih sayang dan rasa cinta. Ia yang menunjukkan bagaiman senyuman dan tawa. Ia pula yang mengantarkan kebahagiaan pada anak-anaknya bahkan hingga merek tumbuh menjadi dewasa.

Ibu seorang dokter sekaligus perawat. Belaian lembut tangan ibu menjadi obat termujarab ketika sang anak sedang dalam keadaan kurang sehat. Perhatian dan ucapan menenangkan yang keluar dari mulut sang ibu menjadi penyejuk dan penghilang rasa sakit yang diderita. Ibu tahu kapan apa yang harus diberikan sebagai pertolongan pertama pada buah hatinya.

Ibu seorang biduan. Walau suara ibu tak semerdu sang diva, namun alunan nyanyian pembawa tidurnya mampu membawa si buah hati ke alam mimpi. Lantunan sholawat dan doa-doanya membawa ketentraman dalam hati sang anak tercinta.

Ibu seorang penghibur. Tak ada yang mampu memberikan hiburan terindah dan termenyenangkan selain kehadiran seorang ibu di sisi anak-anak mereka. Selalu dan selamanya.

Di lain sisi, kita tentu tak bisa memungkiri keberadaan ibu yang berkarir di luar rumah. Dengan berbagai alasan dan kondisi, ibu harus mengikhlaskan melepas tugas mulia mereka di rumah. Dengan perasaan berat, ia harus rela meninggalkan posisi nya sebagai perempuan dengan posisi tertinggi. Ia harus keluar. Menjadi seseorang yang tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak tercinta dan keluarganya. Menjadi seseorang yang juga dibutuhkan oleh orang lain dan masyarakat luas. Menjadi sosok yang tidak hanya bermanfaat untuk keluarganya tapi juga bermanfaat untuk umat. Walaupun harus turun tahta dari singgasana kebesarannya sebagai ibu rumah tangga, tentu akan selalu ada nilai positif yang teriring dengan kehadirannya sebagai seorang wanita karir.

Wanita karir itu berinteraksi dengan berbagai macam teknologi terkini. Dari mulai laptop hingga internet. Wanita karir itu harus bisa membagi waktunya antara tugas utamanya sebagai seorang ibu dan istri, dan tugas dalam pekerjaannya.

Wanita karir itu membiarkan tangan-tangannya yang lembut mengendalikan mouse di kantor dan memainkan setrika di rumah. Wanita karir itu memiliki dua jadual dan kepentingan yang berbeda yang harus diseimbangkan. Tidak boleh lebih condong ke salah satu.

Wanita karir itu mencurahkan hidupnya untuk dirinya, keluargaya, dan lingkungannya.

Wanita karir itu berdiri antara mouse dan setrika. Dengan dua alat berbeda, namun memiliki karakter yang serupa walau tak sama, ia harus mampu memainkan keduanya dengan proporsional. Ketika ia lebih banyak mengendalikan mouse, tentu ada baju-baju yang menangis menanti belaian tangannya. Ketika ia lebih banyak memegang setrika, tentunya pekerjaan dalam karirnya akan menuntutnya untuk dilirik.

Itulah perempuan. Dengan dua profesi berbeda, namun tetap mampu menjalankannya dengan selaras. Dengan segenap hati dan jiwa, menjalani hidup untuk berharap yang lebih baik.