Pagi tadi saya sempat tersenyum sumringah. Lumayan senang dan terbang ketika kepala sekolah menghargai jerih payah saya mengajak teman-teman guru untuk ikut seminar. Beliau menyatakan ketakjubannya ketika tahu bahwa ada beberapa gurunya yang sangat antusias mengikuti seminar yang direkomendasikan oleh saya. Soalnya kejadian seperti itu sangat jarang terjadi di unit sekolah kami. Jangankan yang harus bayar, yang gratisan aja kadang diabaikan!

Beliau menyatakan senang karena saya berhasil menularkan semangat mengikuti event-event seminar atau training ke rekan-rekan yang lain yang kebetulan sebelumnya kurang antusias mengikutinya dengan berbagai alasan, seperti bayarnya mahal lah, jauh tempatnya, hari libur sudah janji sama keluarga, dan berbagai jenis penolakan lainnya. Sementara saya bisa dibilang “seminar/training freak” alias penggila dan pencinta seminar dan training. Yang bayar pun saya lakonin, apalagi yang gratisan, pasti tidak luput dari kejaran saya. πŸ™‚

Dan memang, setelah beberapa kali ajakan, ini kali pertama saya mampu membawa tiga orang rekan kerja untuk ikut seminar. Kebetulan yang terakhir di JCC itu gratis dan dilaksanakan pada hari sabtu sehingga dengan sedikit bujukan dan rayuan, mereka pun mau meluangkan waktunya untuk menghadiri seminar tersebut.

Mengajak guru ikut seminar atau training tidaklah mudah. Butuh kesabaran dan keuletan yang ekstra sehingga mereka mau menyisihkan sebagian rejekinya untuk biaya seminar. Jangankan yang bayar, yang gratisan pun sama saja. Padahal di unit saya, sebagian besar gurunya sudah dinyatakan guru profesional karena sudah sudah bersertifikat. Dan salah satu tujuan utama dari dana sertifikasi adalah untuk guru bisa mengembangkan dirinya melalui seminar-seminar atau training. Apalagi kalau bisa meneruskan pendidikan nya ke jenjang S2, tentu dana tersebut akan menjadi sangat bermanfaat dan tepat guna.

Namun, jika guru bersertifikat enggan mengeluarkan sedikit dananya untuk mengembangkan dirinya, lalu apa manfaat yang bisa diambil dari program sertifikasi tersebut. Berdasarkan data survey, memang 30% guru memanfaatkan dana sertifikasinya untuk pendidikan anak-anak mereka. Hanya sekitar 8% saja yang mengalokasikan dana mereka untuk pengembangan sumber daya manusia. Artinya memanfaatkan dana sertifikasi untuk pengembangan diri belumlah menjadi hal yang populer di kalangan guru.

Satu alasan yang pernah saya temukan adalah bahwa mereka merasa tidak perlu lagi mengikuti seminar/training dan mengumpulkan sertifikatnya karena mereka sudah dinyatakan lulus sertifikasi. Jadi sertifikat itu sudah tidak diperlukan lagi. Berbeda ketika mereka belum lulus sertifikasi dimana mereka mengejar-ngejar berbagai seminar demi syarat melengkapi portofolio mereka, sampai-sampai beli sertifikat pun mereka lakoni. Tapi sekarang, setelah dana sertifikasi cair, mereka melupakan apa itu yang namanya sertifikat seminar/training.

Nah, di yayasan kami, guru kembali mulai mengikuti seminar/training karena sertifikatnya dibutuhkan untuk proses penilaian kinerja guru. Ada poin khusus yang menyatakan bahwa guru aktif mengikuti seminar/training dan mensosialisasikannya di depan rekan-rekan yang lainnya. Jika ini tidak dilaksanakan, maka akan ada poin kosong tanpa nilai.

Karena kepentingan inilah, akhirnya event-event seminar/training mulai dicari lagi oleh para guru. Sebelumnya, guru mengandalkan pihak sekolah untuk mengirim mereka dengan biaya ditanggung oleh pihak sekolah/yayasan. Namun sekarang, seharusnya tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa ikut dengan adanya dana sertifikasi yang mereka dapatkan. Walaupun seyogyanya, ketika kita mengikuti seminar/training, ilmu lah yang kita cari, bukan sertifikat atau embel-embel lainnya, seperti snack, lunch atau door prize. Tapi, demi bukti fisik, tak apalah jika pada akhirnya para guru mengharapkan sertifikatnya dengan tidak mengindahkan ilmu dan pengalaman yang mereka peroleh.

Semoga semakin banyak guru-guru yang sadar akan manfaat dan pentingnya seminar dan training. Selain menambah ilmu dan pengetahuan, seminar/training juga bisa dijadikan ajang silaturahim antar sesama guru, ajang sharing pengalaman, dan ajang menambah pertemanan.

Semangat Seminar dan Training, Kawan!

 

Advertisements