Raden Ajeng Kartini merupakan seorang wanita dengan keberanian luar biasa di jamannya. Sebagai putri seorang yang cukup terpandang dan terpelajar, Kartini remaja mulai mempertanyakan apa arti pendidikan. Siapa yang berhak memperoleh pendidikan?

Bukankah manusia itu sama, laki-laki dan perempuan, tidak berbeda dalam memperoleh hak atau melaksanakan kewajiban. Lalu mengapa hanya laki-laki saja yang diperbolehkan menuntut ilmu di sekolah. Karena keinginannya untuk belajar itulah, akhirnya Kartini berhasil menghancurkan dinding dominasi laki-laki di berbagai aspek kehidupan, terutama di bidang pendidikan. Setelah itu dibentuklah lembaga untuk memboomingkan makna dari emansipasi wanita.

Emansipasi wanita yang bisa diartikanĀ  sebagai keterlibatan, keikutsertaan, perjuangan para wanita dalam memperoleh hak yang sama dengan laki-laki. Melalui emansipasi wanita inilah kita bisa berkecimpung di berbagai jenis pekerjaan, dari guru hingga presiden. Karena wanita pun memiliki kesempatan yang sama menjadi seseorang yang berguna lahir dan batin.

Sebegitu hebatnya perjuangan seorang Kartini, apakah aku pantas disebut sebagai Kartini Modern? Sebagai wanita bekerja dan juga ibu dari seorang putra, maka aku bisa menganggap bahwa diriku bisa menjadi Kartini berikutnya.

Namun, aku adalah wanita lemah, terkadang masih kalah karena cinta. Aku sering terpuruk dengan keadaan yang membuatku sakit hati. Aku masih belum memperjuangkan hak-hak wanita secara umum. Aku masih terbuai dengan hedonisme, hidup dengan serba buang uang. Aku masih terlena dengan keegoisan yang tidak mau berbagi hati dengan rasa saling memiliki. Aku belum mampu memberikan perubahan secara signifikan terhadap kemajuan wanita.

Jika sudah begini, masih pantaskan aku menyandang predikat Kartini dengan semangat juang yang tiada bandingannya? wallahu alam bisshawab