Ketika saya dan seorang rekan pengawas lainnya sedang mengawas, salah seorang siswa pendamping panitia UN masuk dan meminta ijin untuk memeriksa tas para peserta Ujian Nasional. Saya pun sempat bingung dan bertanya kenapa. Siswa itu pun menjelaskan bahwa hal ini dilakukan untuk mengecek apakah para siswa membawa pilox atau spidol yang biasa digunakan untuk aksi corat-coret di baju mereka.

Ah, saya baru nyambung! Saya tahu hari ini adalah hari terakhir siswa SMK Ujian Nasional. Tapi, sudah hampir puluhan tahun saya tidak mengalami aksi corat-coret itu. Bahkan selama saya mengajar di unit saya saat ini, tidak pernah saya menemukan siswa kami yang mencorat-coret baju mereka. Memang ada larangan dan kami pun mewajibkan mereka berseragam setiap ada panggilan atau ada urusan ke sekolah. Jadi tidak alasan untuk tidak memakai seragam jika mereka masih berurusan dengan pihak sekolah.

Akhirnya saya pun mengijinkan siswa tersebut memeriksa tas para peserta yang semuanya laki-laki itu, karena memang mereka adalah SMK jurusan listrik. Bahkan saya dan rekan saya pun ikut membantu memeriksa. Sayangnya (atau untungnya?) tidak ditemukan satu spidol atau pilox pun di tas mereka. Sebenarnya sih saya juga yakin mereka tidak akan segegabah itu menyimpan alat-alat itu di tas. Mereka kan pasti lebih pintar dari guru dan aturan yang dibuat.

Merasa aman, akhirnya siswa tersebut pamit. Saya pun sempat guyon ke para peserta UN itu “Wah, pasti kamu lebih pintar dan cerdik ya? Kayaknya pilox dan spidolnya udah dititipin di warung tempat nongrong nih!” Lalu ada yang merespon dan bilang, “Hahaha…ibu tahu aja nih!” “Iyalah, saya kan pernah muda!”

Dan saya yakin mereka menyimpannya di tempat lain karena memang anak STM (walaupun sekarang namanya SMK) itu identik dengan aksi coret mencoret di pakaian seragam mereka. Kebiasaan jelek ini memang belum hilang dari dunia pendidikan kita yang terkadang mencoreng nama sekolah dan bahkan menodai pendidikan secara umum.

Benar saja dugaan saya. Setelah selesai mengawas dan briefing sebentar dengan pihak panitia, kami pun, para pengawas silang, pulang. Belum jauh dari gerbang sekolah, kami sudah mendapati pemandangan yang tidak asing lagi. Hampir semua pakaian anak yang kami jumpai sudah dalam keadaan berubah warna menjadi warna warni dengan tanda tangan masing-masing kawan mereka. Bahkan ada beberapa anak yang berani melakukannya di atas rel, sementara suara kereta sudah terdengar di kejauhan. Ketika kereta sudah mendekat, barulah mereka berlari keluar dari rel. Mungkin mereka sedang uji nyali juga ya? Entahlah.

Ternyata himbauan sekolah untuk tidak melakukan aksi corat coret di pakaian sekolah mereka tidak sediktipun digubris oleh para siswa. Bak masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, larangan itu hanya numpang lewat saja. Anak dengan asyiknya tetap melakukan aksi itu. Padahal berakhirnya ujian nasional bukan berarti mereka sudah dinyatakan lulus kan? Nilai saja belum keluar, mereka sudah melakukan aksi merayakan berakhirnya ujian nasional. Padahal kalau mereka berpikir, pakaian mereka masih diperlukan ketika mereka harus mengurus berbagai hal di sekolah. Atau mungkin akan lebih bermanfaat jika disumbangakan ke orang lain.

Tentunya hal ini harus mendapat perhatian lebih dari pihak sekolah. Mungkin pihak sekolah harus menyiapkan satpam mereka untuk menyisir siswa-siswa mereka yang ketahuan melakukan aksi coret-coret tersebut. Tidak hanya dibiarkan seolah-olah himbauan atau razia spidol dan pilox tadi hanya sebatas formalitas dari pihak sekolah. Seharusnya harus lebih serius dilaksanakannya.

Semoga aksi ini tidak diikuti oleh sekolah-sekolah lainnya, khususnya siswa SMA yang baru akan selesai Ujian Nasional esok hari.