Sekali lagi terjadi perseteruan antara cucu dan neneknya. Berawal ketika sang cucu sedang bermain dengan teman-temannya di teras depan rumah. Yang namanya anak-anak, kalau sudah main, pasti berisik. Jangankan anak-anak, orang dewasa juga kalau sudah ketemu dan ngobrol dengan teman-temannya pasti juga tidak akan sepi.

Sang nenek sudah mulai menunjukkan raut wajah tidak sukanya. Satu ketika, sang anak akan bermain “bayblade”, mainan sejenis gansing, dan membutuhkan satu wadah untuk memainkannya. Berhubung wadah mainannya tidak ada, akhirnya dia mengambil bak pakaian yang kosong. Sang ibu pun mengijinkannya asal dikembalikan.

Belum sampai si cucu keluar rumah, si nenek sudah teriak-teriak melarang menggunakan bak itu dengan alasan takut rusak. Kontan si cucu kesal dan sempat mengayunkan kakinya walaupun tidak mengenai si nenek. Pamannya yang saat itu melihat pun ikut memarahi si ponakan. Sang ibu sempat kesal dan marah karena teriakannya dikhawatirkan akan terekam di dalam otak si anak. Tak berapa lama, si nenek pun mengusir teman-teman cucunya. Tentu saja sang cucu langsung menangis sedih dan bilang ke si ibu “Kenapa sih ma, nenek selalu ngusir teman-teman aku? Aku juga kan mau main sama teman-teman. Tapi setiap teman aku main ke rumah, pasti nenek ngusir”.

Ibu mana yang tidak sedih melihat keadaan itu. Satu sisi, anaknya ingin sekali bermain. Kebetulan teman-temannya senang main ke rumah karena koleksi mainan si anak lebih lengkap dari mereka. Di sisi lain, si nenek tidak senang dengan suara berisik yang ditimbulkan. Kalau sudah begini, si ibu harus pilih siapa?

Cukup merepotkan ketika melihat cucu dan nenek tidak akur. Memang kebetulan, si nenek usianya sudah tua dan sikapnya kembali seperti anak-anak. Tidak mau mengalah sedikitpun. Tidak hanya masalah si cucu main dengan teman-temannya, rebutan acara tv pun sering terjadi. Dan terkadang, setiap ada barang yang hilang atau rusak, tuduhan langsung diarahkan ke si cucu, karena dia yang paling kecil di rumah.

Sering si ibu memberikan pengertian pada sang anak bahwa kondisi nenek sudah tua dan kadang sikapnya kembali seperti anak-anak. Si ibu selalu menyampaikan bahwa sebenarnya nenek sayang sama dia. Dan dia pun harus berbalik sayang pada nenek. Tetapi ketika setiap harinya tidak terlihat atau ditunjukkan rasa sayang itu, dia pun bertanya-tanya. “Kalau nenek sayang sama aku, kenapa selalu marahin aku? Kenapa teman-teman aku diusir terus? Kenapa selalu nyalahin aku?”

Ketika sang nenek yang diajak ngobrol, dia cenderung menolak menerimanya. Bahkan kadang dia akan berbalik marah pada anaknya. Karena ia pun terkena stroke, jadi setiap ada ucapan yang tidak bisa ia terima, selembut apapun anaknya berbicara, ia akan teriak histeris. Repot jadinya.

Yang ada akhirnya, si ibu yang bingung harus berpihak pada siapa, anaknya atau ibunya? Karena keduanya layaknya anak-anak yang saling berebut perhatian.