Cinta itu anugrah, maka berbahagialah.

Karena kita sengsara bila tak punya cinta.

Sebuah lirik lagu yang benar adanya. Tanpa cinta, hidup manusia menjadi hampa. Tanpa sayang, hidup manusia tak bermakna. Bukankah kita ada karena hasil dari buah cinta sepasang manusia? Bukankah hidup menjadi indah ketika ada rasa cinta dihati kita?

Cinta merupakan perasaan alamiah yang ada di diri setiap insan bernyawa. Entah cinta kepada Tuhannya, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada makhluk Tuhan lainnya, bahkan cinta kepada harta, tahta, dan benda-benda mati lainnya.

Bahkan orang sekejam Adolf Hitler pun memiliki perasaan cinta, yaitu cinta pada kekuasaannya. Firaun yang mengaku dirinya Tuhan pun memilliki rasa cinta, yaitu cinta pada kemegahan diri dan kerajaannya.

Cinta menghinggapi siapa saja yang memiliki hati. Dari penjahat hingga orang suci. Dari anak-anak hingga kakek nenek. Dari orang normal hingga orang berkebutuhan khusus. Semuanya memiliki cinta.

Ketika cinta muncul, pasti ada pihak yang dicintai dan di sisi lain ada pihak yang mencintai. Sejatinya, cinta itu saling mencintai. Artinya dia mencintai kekasih hatinnya dan sebaliknya dia pun dicintai oleh pujaan hatinya. Kalau seperti ini dunia pasiti seindah nirwana.

Namun, apa jadinya jika keadaan tidak sesempurna yang kita harapkan. Ketika kita mencintai seseorang, ternyata harus menerima bahwa kita tidak dicintai olehnya. Atau sebaliknya. Ketika kita dicintai seseorang, kita tidak mampu mengembalikan rasa itu dengan mencintainya. Tentu banyak kasus dan kejadian seperti ini di kehidupan kita.

Ketika kita mencintai seseorang, kita akan berusaha untuk mendapatkan hatinya. Kita akan berjuang untuk membuatnya mencintai kita. Ikhtiar dan doa selalu kita lakukan untuk bisa memenangkan cintanya sehingga cinta kita akan berbalas. Lalu, ketika dengan berbagai usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil, apakah kemudian rasa cinta kita padanya hilang begitu saja? Tentu tidak. Sebagaimanapun respon yang didapatkan dari usaha kita mencintai seseorang, rasa cinta kita padanya tidak pudar dan terbang terbawa oleh penolakannya. Kita masih tetap mencintainya walaupun ia tidak menjadi milik kita. Kita akan ikut bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Itulah perasaan mencintai yang sesungguhnya. Ketika akhirnya orang tersebut bisa menerima kita tanpa cinta, tentu kita akan selalu menanamkan cinta kita padanya sehingga cinta kita semakin hari akan semakin subur, dan tidak menutup kemungkinan dia akan jauh lebih mencintai kita dibandingkan rasa cinta kita kepadanya.

Sebaliknya, jika kita dicintai seseorang, apa kemudian respon yang kita berikan padanya? Apakah kita langsung menerima rasa cinta yang diberikan? Ataukah kita bahkan menampiknya tanpa peduli perasaannya? Ketika kita dicintai, pasti akan ada perhatian lebih yang kita terima. Akan ada berbagai macam ungkapan sayang yang kita dapatkan. Akan banyak panggilan-panggilan telepon sekedar menanyakan kabar dan keadaan kita setiap hari. Namun, ketika usahanya belum mampu membuka hati kita untuk berbalik mencintainya, apa yang kemudian kita lakukan? Membiarkannya menggantung tanpa jawaban pasti tentunya akan lebih menyakitkan. Kita pasti akan mengambil sikap dengan menyatakan perasaan kita kepadanya, bahwa kita tidak mampu membalas rasa cintanya itu. Tetapi, ketika akhirnya kita memilih untuk menerimanya tanpa rasa cinta yang tumbuh, satu hal yang bisa kita lakukan adalah belajar mencintainya. Istilahnya learning by doing. Belajar mencintainya dengan hidup dengannya.

Sekarang, berada diposisi manakah diri kita? Apakah lebih memilih menjadi orang yang dicintai, yang akhirnya harus belajar mencintai, ataukah menjadi orang yang mencintai dan berusaha keras untuk membuatnya mencintai kita?

Salam cinta dari saya yang saat ini sedang mencintai🙂