Wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Itulah istilah para pujangga yang mengisyaratkan bahwa wanita adalah bagian dari laki-laki. Mungkin ada benarnya. Ketika wanita menikah dengan pria pujaannya, disanalah tulang rusuknya disambungkan.  Sebagai penyatu dua hati yang terjalin dalam satu pernikahan suci. Karena sebagian tulang rusuknya diambil dari lelakinya, ada kesan bahwa wanita sangat bergantung pada lelaki. Tidak salah memang karena sebagian besar wanita adalah ibu rumah tangga yang sebagian besar pula hidupnya tergantung pada suaminya. Wanita disini menjadi sosok yang lemah, seolah tak mampu berdiri sendiri.

Tapi tahukah Anda bahwa ternyata wanita adalah mahkluk paling super yang pernah diciptakan Tuhan? Ketika pemberi tulang rusuknya sudah tidak lagi mendampingi hidupnya, entah karena kematian atau karena perpisahan, mampukah para wanita bertahan hidup?

Mari kita lihat dari kasus berikut:

Seorang wanita ditinggalkan suaminya untuk selama-lamanya. Maka, statusnya pun berubah menjadi janda dengan mungkin beberapa anak yang harus diurusnya. Dengan sekuat hati dan tenaga, si wanita memperjuangkan hidupnya dan hidup anak-anaknya dengan bekerja. Entah bekerja sebagai wirausahawan ataupun sebagai karyawan. Hampir tak ada waktu baginya untuk menyenangkan diri. Hidupnya diabadikan bagi anak-anaknya tercinta yang kini menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Ia pun harus bisa membagi waktunya dengan baik, sebagai ibu dan sebagai pengganti ayah untuk mencari nafkah. Bahkan wanita mampu melanjutkan hidupnya tanpa harus menikah lagi.

Bandingkan dengan para lelaki yang ditinggal pergi istrinya untuk selamanya. Kehilangan sangat ia rasakan. Ketika ia harus membagi waktu untuk kerja dan mengurus anak-anaknya, tidak ada para bapak yang berhasil melaluinya. Pada akhirnya ia akan menyerahkan pengasuhan anak-anaknya pada sang nenek dan kakek mereka, atau mungkin pada bibi mereka, atau bahkan pada sanak saudara lainnya yang mau dititipkan anak-anaknya. Atau pilihan lainnya adalah dengan menikah lagi dan menyerahkan pengasuhan anak-anaknya pada istri barunya. Dan pilihan kedua ini cukup banyak terjadi di kalangan bapak yang tak sanggup mengurus anak-anaknya sendiri, walaupun terkadang sering terdengar konflik yang terjadi antara ibu tiri dan anak-anak tirinya.

Dari dua kasus di atas, tentulah kita bisa melihat kehebatan para wanita tanpa pendamping. Sebagai single parent, mereka mampu berperan ganda sekaligus, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi anak-anak mereka. Menjadi ibu dengan mengurus rumah tangga, mendidik anak-anak mereka, meluangkan waktu mereka untuk bermain, belajar dan bercengkrama dengan mereka. Menjadi ayah ketika mereka harus mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya. Waktu kerjanya hampir 24 jam tanpa putus. Pagi hingga sore berperan sebagai ayah, sementara mulai petang hingga pagi berperan sebagai ibu.

Sanggupkah para lelaki berada di posisi wanita-wanita hebat tersebut? Saya rasa tidak. Hampir seratus persen lelaki yang saya kenal dan ditinggal istri mereka, menikah lagi tidak lama dari kepergian istri-istri mereka. Tapi banyak sekali wanita yang saya kenal dekat dan para wanita yang juga diceritakan oleh rekan-rekan saya, yang menjadi single parent dan tetap bertahan dengan kesendiriannya itu.

Kasus kedua adalah:

Tahukah Anda bahwa banyak pergantian peran yang terjadi pada keluarga modern saat ini. Entah apakah pengaruh jaman atau emansipasi wanita, tetapi sekarang cukup banyak ditemukan keluarga dengan istri bekerja dan suami di rumah, atau berwirausaha kecil di rumah (jika tidak ingin disebut pengangguran). Fenomena pernikahan yang saya saksikan sendiri di depan mata saya. Dan tetap, ketika si istri bekerja di luar rumah mencari nafkah, pulangnya dia harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, mengurus anak-anak, dan lain sebagainya. Jika sudah begini, apa peran si suami? Apakah hanya sebagai status bahwa si wanita memiliki pasangan hidup? Entahlah. Hanya mereka yang menjalaninya yang tahu alasan dibalik kehidupan yang dipilihnya itu. Satu yang pasti dicatat adalah wanita seperti ini sama supernya dengan single parent, bahkan bisa dianggap lebih super karena mampu dengan ikhlas menerima keadaan suami dan keluarganya yang sedikit keluar dari jalur yang umum.

Saya tidak bermaksud merendahkan keberadaan lelaki, namun hanya ingin memaparkan bahwa wanita adalah makhluk super yang mampu menjalani dua peran sekaligus dengan baik, dan tidak sedikit pula yang sangat berhasil menjadi orang tua tunggal!