Ini kesekian kalinya sesi konsultasi saya dan putra saya ke psikolog. Setelah hampir empat bulan, ada banyak perubahan yang dapat dibaca oleh psikolog terhadap perkembangan putra saya.

Pertama, sudah tidak terlihat lagi ketegangan di wajahnya. Dibandingkan di awal pertemuan, saat psikolog melihat betapa raut wajah putraku tampak sangat tegang dan ada defense yang sangat kuat darinya. Kini, urat-urat diwajahnya sudah terlihat mengendur dan terlihat santai.

Kedua, sudah muncul rasa percaya kepada psikolog dan saya selaku ibundanya. Sebelumnya, ia tidak akan memberikan kesempatan kepada kami untuk memiliki sesi khusus psikolog dan orang tua. Ia akan ikut ke dalam ruangan dan berusaha mendengarkan apa yang kami bicarakan. Kini, ia mampu memberikan waktu untuk saya dan psikolog berdua saja, walaupun masih ada saat dimana dia masuk dan berusaha untuk mengetahui apa yang kami bicarakan.

Ketiga, ia sudah mulai mau mendengarkan perintah dan penjelasan kami. Ketika kami memintanya untuk menunggunya di luar dengan alasan yang kami utarakan, ia pun dengan cukup tenang menuruti permintaan kami. Walaupun tetap, setiap beberapa menit dia akan masuk dan berusaha menanyakan apapun kepada saya untuk mendapatkan perhatian saya.

Keempat, ada perubahan produksi suaranya yang sebelumnya terkesan kecil dan ditahan, kini sudah mulai terdengar lebih tegas dan berat. Dan tentunya, perubahan suaranya ini akan masih bisa lebih bulat jika ia lebih disiplin berlatih mengungkapkan sesuatu dengan tenang dan percaya diri.

Walaupun perkembangan emosionalnya menimbulkan side effect yang sedikit kurang bagus, yaitu turunnya nilai akademisnya, namun hal ini masih dalam tahap yang wajar.

Menurut psikolog, mengontrol emosi bukanlah pekerjaan yang gampang. Jangankan anak-anak yang belum pandai mengatur emosi mereka, orang dewasa pun yang sudah lebih mengerti tentang pengontrolan emosi masih banyak yang gagal. Lihat saja ketika kita sudah lelah pulang bekerja, putra-putri kita meminta dan menuntut perhatian dari kita. Apa yang kita lakukan? Kita memarahinya dengan alasan kita terlalu cape untuk bercengkrama dengan mereka. Yang ada akhirnya emosi dan rasa lelah adalah pemicu emosi tertinggi.

Pengontrolan emosi ini membutuhkan energi yang besar. Putra saya sudah berusaha untuk mengontrol emosinya yang terkadang berapi-api dan cenderung merusak dengan cara mengalihkannya dengan aktivitas lain. Pengalihan ke aktivitas lain inilah yang menyita waktu dan energinya sehingga materi pelajaran mendapat perhatian yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

Namun hal ini sudah merupakan satu kemajuan besar bagi seorang anak dengan emosi yang kurang stabil. Penurunan di bidang akademis bisa diatasi dengan membangun kembali motivasi belajarnya dengan lebih banyak membantu pemahaman materi yang tidak dimengerti. Belum perlulah adanya target-target nilai yang tinggi. Karena energinya sudah banyak tersita untuk proses ia meredamkan emosinya. Untuk itu, peningkatan nilai secara akademis cukup dilakukan secara perlahan-lahan saja. Tak perlu tuntutan yang membuatnya kembali merasakan tekanan besar sehingga kestabilan emosinya pun akan kembali goyah.

Untuk itu, dukungan penuh akan sangat dibutuhkan bagi putra saya ini, (dan juga mungkin bagi anak-anak lain yang mengalami kesulitan mengontrol emosi yang sama), baik dari saya selaku orang tuanya, ataupun dari guru-guru dan teman-temannya di sekolah, serta lingkungan keluarga yang lebih luas lagi.