Tingkah laku dan pemikiran anak memang sangat polos. Jika kita bilang A, maka ia akan memakan mentah-mentah ucapan kita. Jika kita tidak bilang, maka ia akan terus bertanya hingga mendapat jawaban. Bahkan jika kita beritahu B, ia terkadang mempertanyakan kembali kebenarannya. Dunia anak. Mampukah kita sebagai orang tua meladeni setiap hasil olah pikirannya yang terkang lucu, cerdas dan menggelitik bahkan menempeleng kita?

Ini obrolan aku dengan putraku menjelang tidur. Well, dia bertanya kepadaku:

“Ma, kenapa sih koq kita aja yang miskin? Semua tetangga kita kaya. Koq, kita miskin?”

“Masa sih? Tuh ada tetangga yang rumahnya lebih sederhana dari kita? Terus sekolahnya juga di sekolah negeri yang tidak bayar? Kamu sekolahnya di sekolah swasta loh, yang biayanya lumayan besar.”

“Maksud aku, bukan tetangga, tetapi saudara. Semuanya pada punya uang banyak, punya rumah, punya mobil. Koq, kita gak punya, ma?”

“Belum saatnya, nak. Makanya kamu harus rajin doain mama dong biar rejeki kita lancar dan bisa seperti saudara-saudara yang lain. Lagian, kita harus bersyukur lah masih bisa makan enak, sekolah bagus, jalan-jalan.”

“Iya, tapi kan aku mau beli macam-macam, ma.”

“Kan, tidak semua keinginan itu harus dipenuhi. Kita harus tahu mana keinginan mana kebutuhan. Nah, kalau kamu ingin sesuatu, caranya dengan menabung.”

“Iya, tapi kan aku maunya sekarang. Kalau nunggu nabung, lama.”

“Ya gak bisa dong. Yang namanya menginginkan sesuatu harus pakai usaha. Mama kan sudah kerja, kamu tinggal menyisihkan uang buat ditabung. Jadi kamu juga usaha mengumpulkan uangnya.”

“Tapi aku tahu ma, kenapa kita miskin?”

“Kenapa?”

“Karena aku gak punya ayah!”

“Gitu ya? Kalau gitu kamu berdoa aja semoga Allah mendatangkan ayah buat kamu.”

“Aku udah doa tapi ayahnya belum datang-datang.”

“Ya, doa juga gak langsung dikabulkan dong, nak. Allah juga lihat dulu, doa dan usaha kita sudah maksimal belum.”

“Gitu ya ma! Yaudah, aku doa terus.”

“Nah, gitu dong. Itu namanya anak sholeh.”

Tak berapa lama, ia pun tertidur pulas. Tinggal aku yang mikir, repotnya menjawab pertanyaan-pertanyaan anakku. Terkadang aku terlalu sering mengajak dia membahas hal yang terlalu berat baginya, tetapi itu dikarenakan ia sering bertanya kepadaku sehingga aku harus mengungkapkan semuanya dengan jujur dan apa adanya. Disinilah perlunya menguasai ilmu parenting karena terkadang sulit menghadapi anak dengan beragam pertanyaan yang sulit dijawab.

Untuk itulah, orang tua harus banyak menggali ilmu bagaimana menjadi orang tua terbaik bagi buah hati kita, baik secara lahiriah maupun batiniah. Dan tentunya bagi single parent seperti saya, memperkenalkan sosok ayah tetap harus dilakukan walaupun mungkin buah hati kita belum dapat mengambil contoh baik dari sosok sang ayah. Minimal dia mengakui keberadaan sang ayah meskipun perannya tidak pernah ia rasakan.