“Mam, jual kunci gak?”

“Wah, kalau saya yang jual, mahal bang! Satu nomor 100 ribu, berarti lima puluh nomor, 5 juta. Itu per anak loh, bang!”

“Wah, bisa kebeli rumah donk, mam!”

“Bukan cuma rumah, bang! Beserta isi dan mobilnya juga! :)”

Itulah lontaran guyonan saya dan murid-murid kelas XII. Menjelang Ujian Nasional yang semakin dekat, siswa kelas tiga mulai menunjukkan kegalauannya. Galau karena khawatir tidak lulus dan tentunya galau karena mereka merasa kesiapan pribadi mereka kurang. Untuk menghilangkan kegalauan mereka itulah, terkadang terlontar guyonan seperti itu.

Sebenarnya guyonan itu pun tidak sepenuhnya sekadar becandaan. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir di seluruh pelosok negeri, kebocoran soal Ujian Nasional sering kali terjadi. Saya sendiri tidak pernah tahu siapa oknum yang menyebarkan kunci jawaban UN, karena sampai sekarang pun tidak ada pihak yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap proses kecurangan ini.

Saya sering diceritakan oleh murid-murid saya yang sudah lulus bahwa saat mereka melaksanakan Ujian Nasional, mereka sudah mendapat serangan fajar berupa kiriman kunci jawaban melalui pesan singkat atau cara lainnya. Ketika ditanyakan dapat darimana, mereka tidak mau berterus terang. Yang pasti bagi orang pertama, kunci jawaban itu tidaklah gratis, alias ada imbalan yang mesti diserahkan.

Kalau sudah begini, siapa yang bisa disalahkan? Ketika pihak sekolah sudah melaksanakan banyak program untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Ujian Nasional, baik dengan bimbingan belajar maupun penugasan, ada pihak-pihak yang dengan santainya memberikan cara termudah untuk meloloskan ujian mereka. Akhirnya karakter siswa pun dipertaruhkan. Kejujuran sudah mati. Rasa malu dan takut sudah hilang. Yang ada adalah saling menghalalkan segala cara untuk bisa lulus ujian.

Berbagai cara pun dilakukan oleh pihak pendidikan nasional. Dengan sistem ujian yang berubah-ubah sampai dengan pengiriman soal dan pengepakannya yang diperbaharui. Bahkan adanya pengawas independen pun sepertinya tidak mampu mengontrol tindakan pembocoran soal ini.

Tentu sebagai guru, saya dan rekan-rekan merasa tersentil. Tiga tahun mendidik dan mengajarkan mereka, terkalahkan semuanya demi Ujian Nasional yang menjadi momok menakutkan bagi semua siswa sekolah. Namun, di sisi lain, mungkin ada perasaan lega juga di hati para guru ketika siswa mampu mengerjakan Ujian Nasional walaupun ternyata mendapatkan kunci jawaban sebelumnya. Artinya kekhawatiran akan ketidaklulusan mereka sedikit berkurang.  Bagaikan makan buah simalakama. Senang anak lulus dari hasil mencontek, hati nurani serasa tidak terima. Tapi guru pun tidak sanggup dan belum siap menerima kenyataan jika muridnya ada yang tidak lulus ujian.

Lalu, jika sudah seperti ini, apakah pendidikan di Indonesia sudah tidak lagi ada artinya? Untuk apa belajar susah payah selama tiga tahun jika kelulusan terbesar ditentukan dari hasil ujian tiga atau enam mata pelajaran saja? Tentunya sangatlah tidak arif dan bijaksana. Entahlah, apa yang dicari dari Ujian Nasional itu. Yang pasti kemurnian nilai dan kejujuran sudah terkikis karenanya. Mungkin harus benar-benar dicari cara lain untuk bisa mengevaluasi hasil proses belajar yang bersih dan bebas dari unsur kecurangan.