Ketika siang ini hujan turun dengan derasnya, satu yang ada di pikiran saya “wah, bakalan ada telepon nih dari wali kelas anakku!” Maklum, setiap hujan di sekolah, anak ku tak pernah melewatkan kesempatan itu sedikitun. Pasti dia akan berlari di bawah hujan dengan tawa merebak. Yang repot pasti gurunya. Apalagi saya tidak pernah membawakan baju ganti untuknya. Jadi, bu guru harus mencarikan baju persediaan sekolah untuk keadaan darurat seperti itu. Hmmm…kadang memang kesenangan anak menjadi kerepotan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Dan benar saja feeling saya. Tak berapa lama, ibu wali kelasnya mengabari saya bahwa anak saya main hujan-hujanan. Dan yang bikin pusing adalah dia tidak mau berganti pakaian. Khawatir sakit akhirnya ibu wali kelas nya menghubungi saya dan meminta datang ke sekolahnya. Karena kebetulan saya ada jadual pembagian raport, akhirnya saya coba menelpon saja. Ternyata dia sudah mau berganti pakaian, hanya saja dia kembali duduk di teras yang masih basak karena air hujan. Untungnya, tidak lama kemudian, dia kembali masuk ke kelasnya.

Jujur, bagi saya main hujan-hujanan bukanlah hal yang membuat saya marah atau emosi. Sesuatu yang wajar saja. Namun, tentu saja, jika main hujan-hujanan nya di sekolah, saya tidak juga mengijinkan karena pastinya akan merepotkan semua pihak.

Ketika pulang, dia pun ke kantor saya, dengan pakaian yang sudah baru. Saya masih melajutkan rapat ketika ia pun ijin main dengan temannya. Tak lama kemudian, salah seorang rekan saya memanggil saya dan melaporkan kalau putra saya itu main hujan-hujanan lagi. Sempat sedikit mengancam untuk tidak mengajaknya pergi, dia pun ngomel. Dia semakin ngomel ketika rekan-rekan yang lainnya ikut heboh mellihat keadaan putra saya yang basah kuyup dan kotor sekali. Saya pun hanya berujar, “Iya bu, biarkan saja. Sudah terlanjur basah!” Mereka khawatir putra saya akan jatuh sakit. Saya bilang saja, “Insya Allah kuat bu!”🙂

Ternyata tidak hanya rekan-rekan saya, murid-murid saya pun ikut mengomentarinya. Saya sedikit bingung, ada yang salah ya dengan main hujan-hujanan? Bukankah sering ada guyonan kalau orang dewasa main hujan-hujanan, maka dibilang masaa kecil kurang bahagia? Lalu saya jawab aja, “Iya gapapa hujan-hujanan, biar masa kecilnya bahagia!”

Ya, daripada pas tua nya dibilang masa kecil kurang bahagia, maka biarkan anak menikmati indahnya bermain di bawah guyuran hujan. Saya pun merasakan kebahagiaan bermandikan air hujan ketika saya masih kecil. Bahkan saya dan kakak-kakak saya akan ke luar rumah mencari kucuran dari atas genteng yang bisa menghasilkan aliran air yang besar. Kami pun akan berkeliling ke rumah-rumah tetangga mencari kucuran air seperti itu.

Sedikit mengherankan juga tatkala mereka merasa ketika saya tidak melarang atau memarahi putra saya yang main hujan-hujanan. Bagaimana mau marah? Wong, dia nya saja sudah basah kuyup. Saya hanya memintanya pas pulang untuk langsung mandi membersihkan diri untuk menghindari kemungkinan demam karena kedinginan.

Saya rasa main hujan-hujanan bukanlah hal yang membahayakan. Apalagi hal ini tidak dilakukan setiap hari. Pasti hanya waktu hujan dan sedang dalam posisi di luar rumah. Maka biarkanlah anak menikmati indahnya bermain di bawah guyuran hujan, seperti kita menikmatinya beberapa tahun yang silam. Tidak perlu lah terlalu menghebohkan atau mengkhawatirkan karena jika kondisi anak dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, insya allah tidak akan menimbulkan penyakit. Ya, sebagai pencegahan, kita bisa saja memberikannya suplemen atau sirup pencegah masuk angin.

Nikmati hujan dengan berjalan dibawahnya…:)