Ada dua berita menarik hari ini tentang calon orang nomor satu di DKI Jakarta. Ya, dua calon gubernur ini menarik perhatian warga dan para kuli tinta dengan aksi dan kegiatannya masing-masing. Dua cagub itu adalah Hidayat Nur Wahid dan Jokowi.

Tentang Hidayat Nur Wahid

Mantan Ketua MPR ini mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta dengan diusung penuh oleh partainya, yaitu PKS. Kali ini berita tentangnya lebih kepada satu bencana yang dialaminya sama dengan warga Jakarta lainnya, yaitu kebanjiran. Ya, rumahnya yang terletak di bilangan kawasan Kemang, yang nota bene adalah kompleks rumah mewah, tergenang air hingga setinggi lutut orang dewasa. Bahkan untuk mencapai rumahnya pun, Nur Wahid harus menggunakan perahu karet. Di sepanjang jalan itu, dia sempat menyapa para warga yang juga kebanjiran. Melihat kondisi di sekitar rumahnya itu, dapur rumahnya pun akhirnya diubah menjadi dapur umum untuk membantu warga yang kesulitan mencari makanan.

Sebagai calon gubernur di daerah yang merupakan langganan banjir, tentu kejadian ini harus menjadi perhatian utamanya. Dengan pengalaman kebanjiran yang ia alami sendiri, tentu hal ini bisa ia jadikan sebagai bahasan utama untuk dicarikan solusinya. Jika kawasan elit pun sudah tergenang banjir, bagaimana nasib para warga yang rumahnya dekat dengan aliran sungai yang sewaktu-waktu dapat menggenangi rumah mereka jika sungai meluap karena kelebihan curah air hujan. Ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi Nur Wahid sebagai calon gubernur yang berdomisili di Jakarta dan mengalami banjir yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Jakarta lainnya.

Tentang Jokowi

Lain Nur Wahid, lain pula Jokowi. Walikota Solo ini terlihat mengunjungi para pedagang kaki lima yang pernah dibantu olehnya. Sambil meminta dukungan dan doa kepada warga kota Solo atas pencalonannya sebagai gubernur DKI Jakarta, Jokowi pun sempat mampir ke salah satu lapak sepatu bekas, dan mencoba sepasang sepatu yang akhirnya dibelinya dengan harga 15000 rupiah. Cara Jokowi menarik hati para warga Jakarta dengan kiprahnya berbaur di tengah-tengah warga masyarakat semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemimpin yang dekat dengan rakyat kecil. Bahkan dia terpilih sebagai salah satu nominator sebagai “World Major Award 2012”.

Namun, ada satu sentilan juga bagi Jokowi ini ketika warga masyarakat yang tinggal di bantaran sungai Bengawan Solo mengkritiknya. Mereka berharap Jokowi jangan terlalu sering ke Jakarta dulu karena masih banyak yang harus dibenahi di Solo. Salah satunya adalah tentang relokasi wilayah mereka yang sekarang selalu terancam akan datangnya banjir karena luapan sungai Bengawan Solo tersebut. Sebelum Jokowi mengambil cuti dan fokus untuk berkampanye di Jakarta, warga Solo sangat berharap dia membenahi dulu pekerjaan-pekerjaan rumah yang tersisa selama masa kepemimpinannya. Jangan sampai ia pergi meninggalkan Solo dengan masih banyak PR yang belum tuntas.

Semakin dekat Jakarta dengan Pilkadanya, semakin sering pula tingkah polah dan aktivitas calon gubernurnya disorot dan dinilai oleh warga masyarakat. Bahkan stasiun TV SCTV dengan liputan 6 nya menyediakan satu “Kotak Nyablak” sebagai salah satu cara warga untuk bisa mengaspirasikan ide, saran dan kritikannya mengenai Pilkada DKI Jakarta. Semoga warga Jakarta lebih mampu memilih calon pemimpinnya yang lebih banyak kebaikannya dibanding kekurangannya.