Pagi ini saya sudah menerima berita yang mengejutkan dan memprihatinkan. Ketika mendengarnya, jujur rasa gak percaya dan marah tak terbendung. Saya sampai berucap istigfar tak berhenti.

Saat itu seorang rekan kerja menceritakan salah seorang kawannya yang mengalami kecelakaan kerja, sebut saja namanya Rita. Rita adala seorang guru taman kanak-kanak. Entah sedang apa, tapi ia tidak sengaja terdorong oleh anak-anak yang sedang bermain. Sayangnya ia terdorong hingga terjerembab dan jarinya masuk ke salah satu loker besi yang ada di ruang kelas. Kontan Rita pun terkejut dan meringis kesakitan. Darah tak henti bercucuran dari jari kelingkingnya itu. Jika dilihat sekilas, jarinya hampir putus. Mendengar kejadian itu, akhirnya salah seorang rekannya Rita membawanya ke klinik terdekat. Namun, pihak klinik tidak sanggup karena mereka beranggapan jarinya tidak bisa dijahit tapi harus segera diamputasi.

Akhirnya, klinik memberi rujukan ke rumah sakit. Karena panik dan tidak tahu harus membawa kemana, secara refleks rekannya Rita membawanya ke rumah sakit swasta terdekat dengan sekolah. Sesampainya di sana, pihak unit gawat darurat pun mengakui bahwa jarinya hanya bisa diamputasi melalui operasi. Rita sendiri sudah terlihat pucat dan hampir pingsan menahan sakit. Jari kelingkingnya sudah semakin membiru. Tidak berani mengambil keputusan, sang rekan pun menghubungi atasannya.

Tidak berapa lama, kepala sekolah dan petinggi instansi datang ke rumah sakit. Namun, apa yang diterima sang rekan? Dia malah dimarahi karena membawa ke rumah sakit BUKAN rujukan Jamsostek. Sungguh terpukul juga hati sang rekan. Namun, apalah daya, ia hanya berusaha membantu dan mencari pertolongan secepatnya. Akhirnya Rita dibawa ke rumah sakit rujukan Jamsostek. Tetapi apa yang terjadi? Sesampai di sana, pihak rumah sakit tidak menyanggupi. Dicarilah rumah sakit rujukan lainnya. Dan ternyata mereka pun tidak memiliki kapasitas untuk melakukan operasi.

Setelah dua rumah sakit rujukan Jamsostek itu tidak sanggup, Rita akhirnya dibawa kembali ke rumah sakit awal. Sesampainya disana, pihak dokter sempat bertanya sinis, “Ini bukannya pasien yang tadi datang? Lihat sudah semakin parah jari ibu. Sebentar lagi, bisa mengenai jari yang lainnya.” Saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Mendengarnya saja saya rasanya emosi, apalagi yang mengalaminya ya? Saya tak habis pikir, apa yang ada di otak mereka. Ada seseorang mengalami kecelakaan kerja dan sudah sangat kesakitan dan bisa menimbulkan bahaya yang lebih parah, yang mereka pikirkan adalah mencari rumah sakit rujukan Jamsostek? Tak bisakah mereka mementingkan menyelamatkan kondisi si pasien terlebih dahulu ketimbang memikirkan biaya yang akan dikeluarkan?

Benar, biaya operasinya tidak murah, bisa mencapai jutaan rupiah. Tapi demi keselamatan jiwa seseorang, tidakkah biaya menjadi nomor ke sekian? Mereka bisa menyelesaikan masalah keuangannya nanti setelah tindakan medis dilakukan. Lebih cepat ditangani, pastinya penyembuhannya pun akan lebih cepat. Jika telat ditangani secara medis, tidak menutup kemungkinan bahwa biaya yang dikeluarkan bisa lebih tinggi bukan?

Ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi tentang kejadian ini:

1. Utamakan keselamatan dulu. Dahulukan pertolongan pertama sebelum membahas hal-hal lainnya. Namun ketika kecelakaan itu sudah terjadi, urusan keuangan sebaiknya dibahas kemudian. Tangani pasien dulu secara maksimal, barulah setelah selesai, ke depannya bisa dibahas tentang biaya pengobatan. Bagaimana caranya, tentu bisa dibicarakan dengan bijak antar pihak karyawan dengan institusinya.

2. Ketika menggunakan jasa Jamsostek, ada baiknya pihak perusahaan/instansi benar-benar memilihkan rujukan rumah sakit yang kompeten. Pemilihan rumah sakit ini bisa dilihat dari segi lokasi (terdekat dengan lingkungan kerja atau lingkungan tempat tinggal karyawan), segi kompetensi (apakah rumah sakit tersebut bisa menangani berbagai jenis penyakit atau kecelakaan kerja), segi pelayanan rumah sakit (secara personal dan kinerja mereka).

3. Tidak ada biaya rumah sakit yang murah. Namun, ketika kita pun akhirnya harus memakai jasa rumah sakit, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti kita harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ada baiknya kita sudah mulai berpikir untuk menabung, entah melalui asuransi, atau pun tabungan biasa, sehingga kita memiliki dana untuk keperluan mendadak seperti sakit atau kecelakaan kerja.

4. Memiliki hanya Jamsostek saja menurut saya tidaklah cukup. Ada banyak cerita negatif mengenai kinerja Jamsostek. Sebaiknya pihak Jamsostek pun harus mampu menyediakan rujukan klinik dan rumah sakit yang benar-benar mampu menangani berbagai jenis penyakit dan kecelakaan kerja. Sehingga para peserta Jamsostek pun tidak merasa dirugikan.

Semoga kisah ini bisa memberikan renungan bagi semua pihak.