Saya pernah mengajar di sebuah SD swasta di kawasan Tangerang. Tidak lama, hanya sekitar tiga bulan saja. Saya mengejar kelas 3 dan 4. Karena saya guru baru, saya belum mengenal satu per satu anak yang saya ajar. Tapi di salah satu kelas, saya menemukan satu anak laki-laki yang berbeda. Berbeda karena dia tidak pernah menyapa saya dan ketika saya sapapun, dia hanya menoleh. Tidak pernah banyak bicara. Hanya satu atau dua patah kata yang pernah saya dengar dari  mulutnya.

Hingga pada pertemuan berikutnya, saya memberikan tugas untuk anak-anak, mengerjakan soal. Dia pun mendatangi saya dan menyolek lengan saya. Masih belum berbicara, dia menunjukkan soal yang ia tidak mengerti. Saya pun menjelaskan sekali lagi cara untuk menyelesaikannya. Lalu dia kembali ke kursinya. Tapi dia tidak langsung mengerjakan. Dia malah berjalan keliling kelas. Memutari setiap kumpulan kursi kelompok yang ada di ruang kelas. Setelah dia puas, dia pun akan kembali ke kursinya, mulai mengerjakan lagi tugasnya. Tidak berapa lama, dia akan berjalan lagi dan kali ini keluar kelas.

Awalnya saya sedikit bingung dengan tingkah lakunya. Saya akan memanggilnya dan memintanya untuk kembali ke kursinya. Dia akan menoleh. Terkadang menuruti apa kata saya, namun lain waktu, dia cuek saja. Hingga satu ketika saya pun penasaran dan memberitahukan kepada wali kelasnya. Barulah saya tahu kalau ternyata anak ini adalah anak autis. Akhirnya saya pun sedikti dijelaskan mengenai anak autis itu seperti apa.

Ya, anak autis memang memiliki dunianya sendiri. Dia akan asyik dengan kegiatannya tanpa peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Dia mungkin masih bisa mengikuti pelajaran yang diberikan tetapi memang tidak mudah meminta mereka untuk fokus ke satu hal saja. Dia akan nyaman jika ia bekerja sendirian, dan dia akan melakukan apapun yang menurut dia ingin dilakukannya saat itu. Berjalan keliling kelas dan keluar kelas merupakan hal yang biasa ditemukan pada anak autis.

Walaupun saya hanya sebentar mengenalnya, minimal saya mendapat ilmu sedikit tentang anak autis. Dan saya salut dengan sekolah tersebut karena mau menerima dan membimbing anak itu yang notabene membutuhkan perhatian dan bimbingan yang berbeda dibandingkan anak-anak yang terbilang normal. Dalam undang-undang pendidikan memang ditetapkan bahwa sekolah umum masih diperbolehkan untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus minimal 1 sampai 2 anak per kelas. Jadi anak autis pun bisa bersekolah dan harus diterima oleh sekolah tersebut jika memang secara keseharian masih dianggap mampu mengikuti kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Harusnya hal ini bisa menjadi bahan renungan bagi sekolah-sekolah dasar yang hanya mau menerima anak dengan katagori normal. Karena anak berkebutuhan khusus pun berhak menikmati kehidupan sekolah dan bergabung dengan anak-anak yang normal sehingga mereka pun merasa diberlakukan sama dan bisa menikmati kehidupan normal layaknya anak-anak seusianya.

Semoga pemerintah lebih memberikan arahan kepada sekolah-sekolah umum untuk mau menerima anak-anak autis di sekolah tersebut.