Pada salah satu kesempatan, saya sangat beruntung mendapatkan satu lagi ilmu yang cukup mencerahkan. Dari seorang ustadz dan guru, ada terungkap esensi pendidikan yang dapat dilihat dari kurikulumnya. Bagi orang awam, kata kurikulum itu mungkin sangatlah asing. Namun, bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, kurikulum menjadi kata kunci yang kemunculannya sangatlah sering di kehidupan sehari-hari mereka sebagai pendidik.

Secara bebas, kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah “trek”. Seperti trek dalam satu lintasan lomba balap mobil, motor, sepeda, trek di dunia pendidikan pun bermakna satu jalan atau lintasan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran. Di dalam trek ini terkadang ditemukan dan dijumpai kerikil-kerikil tajam yang kadang membuat kita sedikit tersandung dibuatnya. Namun, jika kita sampai berhasil melalui trek tersebut, kebahagiaan dan kesuksesan akan tampak di depan mata.

Dalam dunia pendidikan, kurikulum yang saat ini kita gunakan adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Namun, ada istilah baru yang diperkenalkan sang ustadz. Menurutnya, kurikulum haruslah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Kurikulum fardhu ‘ain

2. Kurikulum fardhu kifayah

3. Kurikulum wasilah

Kurikulum Fardhu ‘ain adalah kurikulum wajib yang harus dilalui dan dilintasi oleh setiap peserta didik tanpa kecuali. Tanpa kurikulum ini, manusia menjadi belum utuh. Cakupan kurikulum fardhu ‘ain ini adalah pembelajaran tentang agama dan aqidah. Sebagai pegangan hidup, agama dan aqidah amatlah penting. Bagaimana manusia percaya akan Tuhannya, bagaimana manusia berinteraksi dengan Tuhannya, dan bagaimana manusia berperilaku baik pada penciptanya dan makhluk yang diciptakanNya menjadi bahasan utama dalam kurikulum fardhu ‘ain ini. Sholat, puasa dan berakhlaqul karimah menjadi bagian utama dalam pembelajaran di sini.

Kurikulum Fardhu Kifayah adalah kurikulum pilihan karena berhubungan dengan skill/talent atau keahlian dan kecakapan setiap peserta didik. Anak memiliki multiple intelligence. Dan dalam setiap diri anak tersebut, ada kecendurangan untuk memiliki salah satu potensi atau skill yang paling menonjol di antara kedelapan intelligence itu. Maka disinilah akan terlihat bakat dan keahlian seseorang. Misalnya ada anak yang ahli di bidang olahraga seperti pemain sepak bola, ada yang ahli di bidang musik seperti para musisi dan penyanyi, ada orang yang ahli di bidang pertanian dan peternakan seperti petani dan peternak atau nelayan. Maka, sangatlah wajar jika peserta didik cenderung menyukai satu atau dua bidang ilmu saja karena memang mereka menguasai bidang yang dipilihnya.

Kurikulum Wasilah adalah kurikulum pendamping/pendukung yang lebih mengarah kepada amalan muamalah. Artinya kurikulum ini dipelajari untuk menunjang sedikit dari sebagian besar kehidupan yang akan mereka jalani ke depan. Yang termasuk di dalam kurikulum wasilah adalah matematika, sains, sosial dan bahasa. Mempelajari ilmu-ilmu tersebut diukur dari tingkat kepentingan dan kebutuhan dari peserta didik. Jika peserta didik merasa ia tidak memerlukan sebagian besar dari ilmu wasilah tersebut, maka hukum mempelajarinya menjadi tidak wajib. Tapi ketika peserta didik membutuhkan penerapan ilmu itu ke tahapan yang lebih tinggi, maka posisinya menjadi wajib. Namun, perlu diingat bahwa kita harus bisa menempatkan kurikulum wasilah ini pada tempatnya. Artinya jangan jadikan kurikulum wasilah menjadi main position yang menggeser dan menggantikan kurikulum fardhu ain dan kifayah. Wasilah tetap dibutuhkan namun kadarnya harus sesuai dengan kodratnya sebagai kurikulum pendukung, bukan the main point.

Kurikulum ini dibuat sebagai lintasan atau trek kita mencapai sesuatu dalam kehidupan. Pasti ada rambu-rambu di sepanjang trek tersebut. Nah, kita sebagai manusia diminta untuk berlomba-lomba menuju kebaikan dengan cara bersakilah dan berakhlak. Maka tempatkanlah kembali posisi kurikulum sesuai pada porsinya. Tak perlulah kita mengagungkan kecerdasan akademik saja tanpa disertai dengan kecerdasan spiritual dan emosional sebagai kurikulum wajib yang harus ditempuh oleh peserta didik.

Untuk itu, mulailah kita kembali kepada kodrat manusia sebagai kalifah fil ardh yang rahmatan lil alamin. Amin.