Setelah menonton tayangan berita televisi kemarin mengenai demo menentang kenaikan BBM, saya merasa ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang membuat kurang greget, atau bahasa gaulnya: Gak Nendang! Entah apa yang tertinggal dari demo kemarin. Apakah kurang dukungan masyarakat? Atau kah kurang esensi demonya? Atau tidak tepat timingnya?

Yang pasti tayangan demo kemarin belum banyak membawa perubahan dalam kehidupan warga masyarakat. Saya melihat warga, terutama di lingkungan tempat tinggal dan kerja saya, tidak melihat dampak positif dari demo yang dianggap “BESAR” tersebut. Bahkan ada seorang rekan saya yang berpendapat lebih baik bubar aja demonya karena yang didemo sedang tidak di tempat.  Malah mereka mengkhawatirkan kalau demo akan berlangsung anarkis. Dan ternyata tindakan anarkis itu benar terjadi di sekitar daerah gambir dimana terjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian, bahkan satu mobil warga menjadi korban.

Menurut saya, pesan demo kemarin tidak sampai dikarenakan beberapa hal berikut:

1. Kurang mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak dan masyarakat. Artinya, aktivitas warga berjalan normal seolah rencana demo itu hanya merupakan hal kecil yang tidak berimbas langsung pada mereka. Seolah-olah mereka akan bilang: “ya sudah, biarin mereka demo, kita mah lihat dari jauh aja. yang penting, kalau sampe BBM ga jadi naik, saya ikut untung.”

2. Kurang tepat sasaran. Sebenarnya, demo itu ditujukan untuk siapa sih? Pemerintah bukan? Lalu siapa pemerintah itu? Presiden kan? Terus, presidennya sedang dimana? Jalan-jalan toh?. Nah, kira-kira, siapa yang mau mendengarkan apresiasi demo jika pihak yang ditujunya tidak mendengarkan secara langsung? Artinya, para pendemo harus bisa mengatur dan menyusun strategi waktu yang tepat sehingga apresiasi mereka tepat diterima oleh pihak yang kita maksudkan. Contohlah demo buruh beberapa waktu lalu di Bekasi, yang mampu meluluhlantahkan aktivitas perekonomian masyarakat secara global.

3. Penghimpunan personil demo yang tidak pas. Demo selalu dilakukan dan diprovokasi oleh mahasiswa. Sementara pihak yang terkena dampak langsung dari kenaikan harga BBM tentunya adalah para pekerja yang memanfaatkan kendaraan bermotor, para perusahaan penyedia layanan transportasi, para ibu rumah tangga. Kenapa pula pihak perusahaan yang notabene paling banyak mengkonsumsi BBM tidak dilibatkan dalam demo kemarin? Apresiasi mahasiswa sekarang sudah tidak lagi mampu membawa perubahan berarti karena banyaknya tindakan anarkis yang terkadang diperlihatkan oleh oknum mahasiswa yang sering tawuran di kampus mereka. Seolah-olah, demo hanya menjadi wahana mereka untuk menyalurkan hobi mereka tawuran.

Kenaikan BBM saat ini memang tidak masuk akal, tapi demo yang sering terjadi pun lebih tidak masuk akal. Perlu perhatian para arsitek-arsitek demo sehingga demo tidak lagi sebagai ajang menyalurkan bakat tawuran atau anarkis para pendemo, tetapi mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.