Setelah tiga minggu tidak jalan keluar, selain hanya dari rumah ke sekolah yang cukup dengan berjalan kaki, kemarin saya pergi ke salah satu mal di Bekasi. Sesampainya di Bulak Kapal, saya memperhatikan ada spanduk merah menyala bergambar banteng. Setelah saya baca, ternyata tertulis:

Hajjah Sumiyati adalah istri dari terpidana kasus korupsi, walikota Bekasi, Mochtar Muhammad. Dalam spanduk tersebut tertulis dengan jelas slogan yang bunyinya:

 

Melanjutkan pendidikan, kesehatan gratis dan infrastruktur.

Wah, wah. Saya tak habis pikir. Suami Ibu Sumiyati ini sudah jelas-jelas dinyatakan bersalah melakukan tindakan korupsi, tapi beliau masih memiliki nyali untuk maju mencalonkan diri menjadi “the next major“? Apakah tidak malu. Bagaimana tanggapan masyarakat kota Bekasi mengenai spanduk yang banyak beredar di sepanjang jalan protokol tersebut? Ataukah slogan itu mestinya diganti menjadi “melanjutkan korupsi?” Entahlah.

Well, secara pribadi saya memang tidak mengenal mereka. Tapi bukankah ada pepatah “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Walaupun mungkin Ibu Sumiyati tidak melakukan tindak korupsi secara langsung, tapi sebagai seorang istri, tidakkah beliau mengetahui tindakan yang dilakukan suaminya? Masihkah masyarakat mempercayakan kepemimpinan kota Bekasi di tangan keluarga yang salah satu anggotanya melakukan kecurangan seperti itu?

Sebagai warga awam, saya tidak akan memilih kembali sosok pemimpin yang sudah terbukti melakukan tindakan pidana, termasuk juga keluarganya. Walaupun pada dasarnya manusia itu tidak boleh bersu’udzon, namun ada baiknya kita menghindari memilih calon pemimpin yang berasal dari keluarga dengan track record yang kurang baik. Berikanlah kesempatan pada sosok lain yang jauh lebih bersih dan jujur untuk menjadi pemimpin masyarakat.

Entah pemasangan spanduk itu memang sudah dipertimbangkan masak-masak atau belum dari pihak tim sukses mereka, yang pasti keberadaannya menjadi ironi di tengah penahanan Mochtar Muhammad sendiri.