Membaca kata menular, apa yang terpikirkan oleh Anda? Mungkin sebagian besar Anda akan menjawab penyakit. Ya, kita mengenal penyakit yang menular dan tidak menular. Menular berarti menjadikan seseorang yang lain mengalami hal atau kejadian yang sama seperti yang kita alami. Apakah hanya penyakit saja yang bisa menular? Jawabannya tentu tidak. Itu menurut pengalaman saya.

Begini. Saya adalah seorang guru. Sudah hampir 12 tahun saya mengajar, walaupun dua tahunnya tidak di pendidikan formal. Selama mengajar, tentu banyak hal yang saya rasakan dan alami. Baik perasaan menyenangkan, membetekan atau bahkan menyedihkan. Sepanjang aktivitas mengajar yang saya alami, ada masa-masa dimana tingkat kebosanan meningkat tajam. Mengajar menjadi sesuatu yang membosankan dan membebani. Di saat itulah, daya kreatifitas kita anjlok. Kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat tidak menyenangkan, membosankan bahkan mati gaya.

Dan apa yang terjadi pada murid-murid saya? Ketika saya merasa tidak semangat dan antusias mengajar, maka aura negatif itu akan terpancar dan mengalir melalui gelombang udara, dan tertangkap oleh sinyal-sinyal yang ada di tubuh murid-murid saya. Maka, murid kita pun akan menerima aura negatif tersebut sehingga mereka sama tidak semangatnya dengan saya. Bila hal ini terjadi, kelas seakan menjadi kuburan. Waktu berjalan sangat lambat sampai-sampai kita mampu mendengar bunyi setiap gerakan detiknya. Murid mengantuk dan tidak ada gairah untuk belajar. Jadi, bagaimana mereka bisa menerima informasi dengan baik jika kondisi kelas tidak kondusif?

Belajar dari pengalaman tersebut, saya mulai memperbaiki diri. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah saya harus mempersiapkan kondisi psikologis saya sebelum saya mulai memasuki kelas dan berhadapan dengan murid-murid saya yang siap menerima informasi baru dari kita. Jadi kesiapan diri menjadi awal langkah kita untuk memulai hari sebelum mengajar. Tumbuhkan semangat dan antusiasme dalam diri kita. Tularkan keceriaan dan perasaan senang hadir di tengah anak didik kita. Tunjukkan pada mereka bahwa hari ini indah dan kita akan belajar dengan sangat menyenangkan. Jika sudah tumbuh rasa senang mereka menyambut kita, maka aktifitas berikutnya akan berjalan dengan suasana hati yang menyenangkan pula. Ingatlah bahwa semangat dan antusiasme itu seperti wabah! Mereka bisa ditularkan kepada orang lain! Plus, berikan senyuman terindah Anda ketika memasuki kelas. Ini akan sangat membantu mood mereka untuk menerima pembelajaran Anda.

Langkah kedua yang harus saya persiapkan adalah kesiapan metode, media dan strategi pembelajaran. Saya yakin, ketika Anda tidak ada persiapan mengajar, alias ngeblank, maka aktifitas belajar pun akan menjadi mati, tiada gairah belajar. Ketika kita masuk ke kelas, tanpa membawa media belajar sebagai alat yang mampu menceriakan setiap proses belajar, kita akan memanfaatkan media yang paling minimal, yaitu papan tulis dan spidol. Kemudian, kita akan ceramah, lalu tanya jawab dengan siswa kita, dan terakhir siswa diberikan tugas sebagai evaluasi. Apa yang akan Anda dan anak didik Anda rasakan? Yup, bosan dan jenuh pasti akan menghinggapi mereka. Kenapa? Karena aktifitas belajar mereka hanya dilakukan dengan mendengarkan atau menulis saja. Tidak ada aktifitas yang membutuhkan pemikiran untuk mencari solusi, tidak ada interaksi dengan sesama murid lainnya, tidak ada kegiatan yang dapat mengakomodasi beberapa siswa yang mungkin termasuk siswa dengan tipe pembelajar kinestetik. Jika sudah begini, tidak banyak yang mampu diingat siswa mengenai materi pembelajaran hari itu karena sangat sedikitnya proses “doing” oleh mereka.

Untuk itulah persiapan media, metode dan strategi mengajar menjadi satu tonggak penting sebelum kita memulai aktifitas mengajar kita. Siapkan aktifitas yang melibatkan dan mendorong pemanfaatan lima indera dalam diri anak didik kita. Ciptakan proses belajar yang membutuhkan keterlibatan siswa secara penuh dan menyeluruh. Terapkan aktifitas yang bisa membuat anak pendiam menjadi bicara dan anak yang sudah cerewet menjadi sedikit mengerem ucapannya. Dengan begitu, saya yakin kelas akan sangat ramai dan hidup dengan aktiftas yang dilakukan oleh siswa kita.

Memang mengajar itu bukan perkara gampang, namun tidak juga bisa dibilang sangat sulit. Mengajar seperti seni. Kita harus bisa menemukan dan bahkan menciptakan seni mengajar kita sendiri. Seni yang tentunya akan membuat anak didik kita senang dengan kedatangan kita di kelas mereka. Seni yang akan membuat mereka menyenangi setiap aktiftas yang kita siapkan. Seni yang mampu membawa  proses belajar menjadi proses yang menyenangkan. Penciptaan seni itu bukan dengan cara instan. Perlu pengalaman, jam terbang, dan proses belajar kontinyu sehingga kita mampu mengenali skill mengajar kita sendiri. Untuk itu, sebagai guru, kita jangan pernah berhenti belajar. Ikutilah seminar, pelatihan atau workshop yang akan memberikan pencerahan ilmu dan mampu meningkatkan skill dan seni mengajar kita.

Semangat Mengajar!