Beberapa waktu yang lalu, putra saya menerima catatan kecil dari gurunya yang berisi tugas pelajaran green education. Tercatat di sana bahwa setiap siswa diwajibkan membawa dua buah potongan botol plastik bekas minuman berukuran 1,5 liter. Botol bekas itu kemudian dipotong bagian bawahnya setinggi 6 cm. Permasalahan saya adalah bahwa saya tidak memiliki botol bekas yang dimaksud. Berdasarkan contoh gambar, botol yang digunakan adalah botol bekas minuman bersoda. Kebetulan sudah lama saya tidak membeli jenis minuman bersoda tersebut. Disamping menguranginya karena penyakit maag saya, saya pun tidak ingin anak saya terlalu kenal dengan minuman bersoda tersebut dan kemudian kecanduan terhadapnya.

Nah, maksud hati ingin memanfaatkan barang bekas, ternyata hal itu tidak berlaku di saya karena dengan terpaksa saya harus membeli dua botol minuman bersoda ukuran 1,5 liter. Tidak ingin putra saya meminumnya, saya pun membawa minuman itu ke sekolah dan menyediakannya untuk rekan-rekan kerja saya. Komentar mereka adalah “Wah, Ibu ulang tahun ya? Selamat ya?” Saya pun tersenyum geli mendengarnya sambil berucap “Ibu dan Bapak, silahkan habiskan minumannya, karena saya hanya membutuhkan botolnya saja untuk tugas GE anak saya.”

Apakah karena tugas itu, saya termasuk orang yang tidak green-oriented? Bukankah dengan saya membeli dua minuman tersebut malah menambahkan limbah botol plastik? Karena yang diperlukan hanya sebagian kecil dari botol tersebut. Jujur saya jadi berpikir “Koq tugas GE yang harusnya menghijaukan lingkungan, malah membuat orang tua tidak ramah lingkungan? Apakah esensi pembelajaran GE hanya berkutat pada pemanfaatan barang bekas seadanya? Saya melihat bahwa bagian botol bekas tersebut akan dijadikan produk dompet beresleting. Lalu, apakah akan bermanfaat dompet plastik tersebut? Atau jika hasilnya kurang memuaskan (bayangkan yang membuatnya adalah siswa kelas II SD!), apakah tidak menjadi tumpukan sampah lainnya?

Sebenarnya apa sih esensi dari pembelajaran Green Education itu sendiri?

Berdasarkan yang saya baca di www.greeneducationfoundation.org, inti dari pembelajaran Green Education adalah:

1. Use scrap paper for art projects and practice work. Menggunakan kertas bekas untuk karya seni. Produk kertas adalah sampah terbesar dalam kehidupan kita (hampir 40% dari jumlah kesleuruhan sampah). Dari setiap ton kertas recycle, kita mampu menghemat 380 galon minyak.

2. Recycle (aluminum, glass, plastic, paper, cardboard). Mendaur ulang aluminium, kaca, plastik, kertas dan papankartu. Mendaur ulang disini lebih kepada mengubah energi sambil mengurangi jumlah sampah yang ada di tanah. Bukan memanfaatkan sampah botol plastik untuk benda-benda yang kemungkinan akan menjadi sampah juga.

3. Ban plastic water bottles. Melarang penggunaan botol air plastik, bukan memanfaatkan botol tersebut menjadi produk lain. Pastikan siswa membawa botol minuman yang bisa dipakai kembali.

4. Adopt-a-Plant to help purify indoor air. Terapkan satu tanaman untuk membantu menjernihkan udara dalam ruangan. NASA menyarankan untuk menyediakan satu tanaman per 100 m2 luas ruangan.

5. Turn off water faucets tightly. Matikan kran air dengan kencang. Hanya tersedia 1% air minum dimuka bumi, sisanya sudah menjadi es atau tinggal air laut. Karena pertumbuhan manusia semakin pesat, penghematan air harus dilakukan setiap hari.

6. Unplug electronic devices at the end of the day. Cabut alat-alat elektronik di akhir hari. Mendiamkan alat elektronik terhubung dengan listrik adalah vampir bagi listrik. Rata-rata di setiap rumah, 75% energi listrik tersedot ketika alat-alat elektronik itu dalam keadaan mati!

7. Turn off lights when leaving an empty classroom. Matikan lampu ketika meninggalkan ruang kelas yang kosong. Kebiasaan kecil dan sederhana akan mengarah ke penghematan yang besar.

Jika melihat esensi dari pembelajaran Green Education di atas, apakah memanfaatkan barang bekas, dalam hal ini botol plastik, termasuk ke dalamnya? Bukankah justru botol plastik itu sudah harus dilarang, walaupun dalam tugas itu hanya sebagian kecil yang kita gunakan? Plastik tetap saja plastik. Mendaur ulangnya bukan dengan menjadikannya produk baru yang belum tentu sangat bermanfaat bagi kita. Bisa jadi produk itu malah menambah sampah baru. Untuk itu, sekolah sebaiknya lebih cermat memberikan pembelajaran green education pada siswa didik, sehingga sasaran GE itu menjadi tepat guna.

Masih ingin memanfaatkan botol plastik bekas?