“Rayhan, masih ingat Bapak gak?”

“Bapak yang galak itu kan?”

“Loh koq Bapak dibilang galak?”

“Iya, soalnya waktu aku becanda, diusir sama Bapak!”

“Becandanya di aula kan? Pas sholat jumat?”

“Iya. Tapi kan kalau ada anak becanda harusnya dibiarin aja, gak usah diusir! Pokoknya Bapak itu galak!”

“Masak sih? Kata teman-teman kamu Bapak baik koq?”

“Gak. Bapak juga yang culik teman aku kan?”

“Culik bagaimana?”

“Waktu aku sama teman-teman lagi main di AMIK, Bapak culik mereka.”

“Bukan culik kali? Nakuti-nakutin.”

“Iya. Sama aja. Bapak itu ada setannya ya?”

“Koq gitu?”

“Iya. Kan kalau orang marah terus pasti didalamnya ada setannya.”

“Kata siapa?”

“Kata guru aku. Pokoknya kalau Bapak galak lagi, aku bilangin mama.”

“Coba tanya ke mama, Bapak galak gak?”

“Galak. Kan mama ngomongnya dalam hati.”

“Bagaimana hati bisa bicara?”

“Bisa lah. Hati mama bicara, hati aku mendengar!”

“Emang kalau hati bicara kayak gimana?”

“…….shhshshhhhs…”

“Mana? Koq gak kedengeran?”

“Bapak b*****!” (Saya langsung memperingatkan dia dengan kata yang dikeluarkan..)

“Kalau hati bisa bicara, dia bisa makan juga donk!”

“Bisa lah! Makan dari mulut, terus masuk ke hati!”

“Hahahah…rayhan mah banyak omong ya?”

“Sama! Bapak juga. Tuh gak berhenti ngomong!”

“……..”