Mungkin Anda sudah sangat kenal dengan kata JANDA alias wanita yang ditinggalkan suami, entah karena meninggal ataupun karena perceraian. Ya, kata itu mungkin sedikit berkesan negatif di mata masyarakat kita. Banyak orang berpikiran miring terhadap status janda tersebut. Bagi para janda yang terpelajar, atau minimal memiliki kemampuan dan keterampilan khusus, predikat yang disandangnya mungkin tidak terlalu menimbulkan kesan negatif. Karena janda seperti ini mampu menghidupi dirinya dan anak-anaknya dengan cukup. Namun, bagaiamana dengan janda yang hidupnya sepenuhnya tergantung pada mantan suaminya? Tentu hal ini akan lebih sulit untuk diterima bagi si janda itu sendiri.

Mengingat hal tersebut, perlulah ada perhatian pemerintah terhadap kehidupan para janda yang tidak berbekal keahlian khusus. Karena menyandang status janda, otomatis ia harus mampu menghidupi dirinya sendiri dan anak-anaknya yang ikut dengan dia. Dalam hal ini pastinya si janda haruslah bekerja untuk mencari nafkah, menggantikan tugas suaminya yang sebelumnya disandang olehnya. Nah, para ibu inilah yang dinamakan dengan Wanita Kepala Rumah Tangga, yaitu para wanita pencari nafkah utama dalam sebuah keluarga. Termasuk di dalamnya adalah para istri yang menjadi tulang punggung keluarganya karena suaminya tidak berdaya atau tidak lagi mampu mengemban tugasnya sebagai kepala rumah tangga di karenakan sakit atau lumpuh.

Dengan pandangan sinis masyarakat sekitarnya, para WKRT itu seolah semakin terpojok dengan keadaan. Di satu sisi dia harus bisa mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga, di sisi lain dia pun harus menghadapi cibiran, cemoohan dan pandangan negatif orang-orang di sekitarnya. Untuk itulah dibutuhkan dukungan semua pihak, baik dari keluarga maupun pemerintah, untuk ikut membantu memberdayakan para janda ini sehingga hidupnya tidak semakin terpuruk secara finansial maupun psikologis.

Inilah beberapa usaha yang bisa diwujudkan demi membantu membangun nama baik dan kepercayaan diri para WKRT:

1. Dari sisi pemerintah: diusahakan ada semacam penyuluhan atau pelatihan bagi para WKRT yang tercatat tidak memiliki keahlian apapun sebelumnya, Misalnya: dengan pelatihan-pelatihan secara gratis seperti menjahit, menyulam, atau kerajinan tangan lainnya yang bisa diajarkan dan dikembangkan oleh mereka.

2. Dari sisi keluarga: sebagai orang terdekat dari para WKRT, keluarga harus memberikan dukungan penuh kepada mereka, misalnya dengan membantu mengasuh putra-putri mereka ketika mereka sedang bekerja, ataupun memberikan bantuan finansial bagi kelangsungan hidup mereka, dan membantu dorongan agar mereka tetap percaya diri menapaki hidup mereka yang sebelumnya pernah hancur karena ketiadaan seorang suami disisinya.

3. Dari sisi masyarakat: hendaknya masyarakat mulai memandang positif predikat janda yang disandang oleh para wanita yang bisa dibilang tidak seberuntung wanita lainnya yang memiliki pasangan hidup sampai saat ini. Menjadi janda bukanlah pilihan hidup. Ketika itu terjadi, bukan berarti mereka adalah wanita yang hina yang seenaknya direndahkan. Mereka pun butuh penerimaan dari masyarakat bahwa mereka manusia biasa yang pernah gagal dalam menghadapai mahligai rumah tangganya, atau pun yang kurang beruntung karena sang suami harus pergi ke pangkuan illahi terlalu cepat. Adakah yang salah dari dua kondisi tersebut?

Prosentase janda itu sendiri kian meningkat. Mengingat hal ini, perlu kiranya perhatian khusus kepada status mereka disegerakan agar mereka mampu menjalani kehidupannya ke depan dengan lebih baik.