Membaca postingannya mas Ninoy Karundeng, saya jadi kepikiran dengan kata narsis yang dipakai. Sebelum mulai dan menyenangi aktivitas menulis, narsis yang saya kenal adalah eksis dengen berfoto-foto ria. Setiap pergi kemana, pasti akan membawa kamera atau minimal handphone berkamera untuk mengabadikan diri. Atau setiap ada acara, pasti tak akan melewatkan kesempatan untuk dekat-dekat bagian dokumentasi supaya wajahnya selalu terpampang. Itu dulu. Sekarang?

Ternyata narsis itu juga sudah dipakai untuk aktivitas lain yang tidak ada hubungannya dengan fotografi atau foto-foto diri. Contohnya menulis di kompasiana atau di blog sendiri. Ketika kita membuat blog, sebenarnya apa yang ingin kita tuju? Ketenaran kah? Uangkah? Atau kepuasan batin? Tentunya jawabannya sangat beragam dan tergantung dari pribadi masing-masing. Yang pasti ketika kita menulis di blog atau di social media lainnya, semisal kompasiana ini, pasti ada harapan dan keinginan bahwa tulisan kita dibaca oleh orang lain. Jika tidak, tak mungkin kita repot-repot memposting setiap tulisan kita, bukan?

Kalau sudah begitu, maka bisa dibilang bahwa kita, para kompasianer, atau blogger, adalah orang-orang narsis pula. Bukan narsis dengan menampilkan foto-foto kita tetapi narsis ingin tulisan-tulisan kita dibaca dan diapresiasi orang lain. Sebenarnya narsis itu memang sudah menjadi salah karakter yang ada di masing-masing individu. Yang membedakannya adalah kadar kenarsisan itu sendiri. Ada orang yang super duper narsis, ada yang berusaha menahan kenarsisannya untuk diketahui hanya oleh sebagian orang saja.

Narsis itu sendiri sudah ada sejak jaman dewa-dewi yunani. Jika anda pernah membaca kisah tentang dewa dewi yunani, anda mungkin mengenal sosok Narcissist. Narcissist adalah putra dari Dewa Sungai Chepissus dan ibunya yang sangat cantik bernama Liriope. Ketampanannya membuat narcissus tumbuh menjadi pria yang angkuh dan sombong sampai-sampai ia beranggapan bahwa tidak ada seorang dewi atau peri yang dapat bersanding dengannya. Ia pernah diramal akan berumur panjang jika tidak melihat dirinya sendiri. Dewi Aphrodite sangat kesal dengan tingkahnya hingga akhirnya ia pun membuat narcissus jatuh cinta pada wajahnya sendiri yang terpantul di sungai. Saking terkagumnya, ia berhari-hari memandangi wajahnya itu hingga satu saat ia berubah menjadi bunga narciss. Inilah asal muasal dari kata narsis itu sendiri.

Secara etimologi, kata narsis ini merujuk pada tingkat self-esteem yang berlebihan. Namun, jika kita bisa mengendalikannya, tentu tidak akan menjadi perilaku yang terlalu mengganggu.

So, narsis via tulisan? Why Not?

Keep writing, guys🙂