Berbicara tentang pembantu rumah tangga memang tak ada habisnya. PRT bagai dua sisi mata uang yang akan terus menimbulkan dilema. Di satu sisi, akan ada bantuan yang bisa diberikan dengan keberadaannya di rumah kita. Namun, di sisi lainnya, masalah yang ditimbulkannya pun tak kalah rumit dan pelik. Ibarat kata, punya PRT itu bak makan buah simalakama.

Bagi keluarga yang mendapat PRT yang cakap bekerja dan berperilaku baik, tentu akan sangat terbantu dengan kehadirannya. Namun, bagaimana kasusnya jika ada keluarga yang kebagian PRT dengan kondisi sebaliknya? Banyak memang PRT yang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini terjadi di banyak keluarga. PRT yang tidak rajin lah, PRT yang centil lah, PRT yang maruk, PRT yang menggerutu terus, PRT yang macam-macam deh pokoknya. Umumnya keluhan itu memang dialamatkan kepada para PRT yang usianya masih belia atau menginjak remaja. Sekitar usia 14 sampai 18 tahunan.

Kasus berikut ini adalah satu contoh yang nyata bagaimana PRT bisa membuat majikannya geleng-geleng kepala dan pusing dibuatnya. Salah seorang kawan cerita bahwa dia sangat mengkhawatirkan perilaku putranya yang bungsu yang berusia 2 tahun. Satu ketika di bis, ketika ada seorang gadis yang bilang betapa lucunya dia, anaknya langsung nyosor dan mencium gadis itu. Tentu saja, si gadis tersebut kaget dengan wajah malu berujar “wah, siapa yang ngajarin nih?”  Sang ayah pun tak tahan menanggung malu. Mukanya pun memerah. Saya tanya ke dia apakah di rumah sering mencium istri atau sebaliknya di depan anak-anaknya. Dia bilang tidak. Usut punya usut, tayangan TV lah yang menjadi pemicu perilaku anak kecilnya tersebut.

Kenapa bisa? Ternyata setiap sang PRT menonton TV, dan ada adegan ciuman, dia akan terfokus dan mulai berujar, “eit..eit..eit…kena deh!” Sementara saat itu pula, si anak ada dalam pangkuannya yang secara otomatis dia akan aware juga dengan bagian tayangan yang ditekankan oleh pengasuhnya tersebut. Karena seringnya diasuh sambil menonton TV, kebiasaan itu pun terekam dengan sangat cepat di otak sang anak. Mengingat usia PRT yang baru menginjak 18 tahun, tayangan sinetron atau film-film remaja tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi remaja seusianya. Karena memang perkembangannya itu dalam tahap dimana ia sedang menyenangi lawan jenis. Di waktu yang lain, pembantunya itu baru membeli HP. Namanya HP baru, sampai-sampai gak pernah lepas dari genggaman. Hingga suatu ketika, saking asyik dan sibuknya dia dengan HP barunya, dia lupa kalau dia sedang merebus botol susu anak kawan saya. Dan apa yang terjadi? Botol susu itu hangus tak bersisa!

Akhirnya, kawan saya mengambil solusi dengan cara memindahkan posisi TV ke ruang lebih terbuka dengan dengan mainan PS si anak. Sehingga ketika si PRT itu menonton TV, si anak bisa asyik bermain play stationnya. Cara ini cukup berhasil mengurangi perilaku anaknya yang cukup membuat orang tua sport jantung. Tentunya, dia tidak bisa langsung memberhentikan pembantunya. Karena dia dan istrinya bekerja, PRT menjadi solusi yang paling tepat untuk menitipkan anak dan pekerjaan rumah tangga mereka. Tentu hal ini menjadi satu dilema yang berkepanjangan.

Ketika kita memilih menyewa jasa PRT, kita memang harus siap akan banyaknya hal yang mungkin tidak terlalu sesuai dengan harapan ideal kita, terutama masalah pengasuhan anak. Tidak bisa kita menuntut  pembelajaran ideal bagi perkembangan putra putri kita di tangan para PRT. Untuk itulah, kita harus benar-benar mampu memilah dan memilih PRT yang mengerti benar akan pentingnya kebiasaan baik dalam pertumbuhan anak.

Satu cara yang bisa dipakai adalah dengan memberikan pengarahan yang kontinyu kepada PRT kita mengenai hal-hal yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan yang berhubungan terutama dengan pengasuhan anak. Tentu kita tidak bisa melarang para PRT itu untuk menonton TV. Tapi setidaknya kita bisa memberikan arahan untuk tidak menonton tayangan percintaan atau kekerasan ketika anak sedang ada dalam asuhannya. Atau cara yang lebih ekstrim adalah JANGAN PILIH PRT USIA REMAJA! Dengan karakter mereka sebagai remaja, akan sedikit lebih sulit bagi kita untuk mengarahkannya. Pilihlah PRT yang sudah matang dan memiliki anak sehingga mereka sedikit banyak paham akan kebutuhan perkembangan anak-anak usia balita.