Kalimat itu sempat terlontar dari mulut saya. Akhirnya dengan sangat terpaksa saya menitipkan amplop undangan saya ke salah seorang rekan yang akan berangkat. Namun, saya tetap masih berusaha untuk mencari cara agar bisa berangkat ke tempat undangan pernikahan salah seorang murid dan juga rekan kerja.

–0O0–

Sudah sejak pagi saya berkoar mencari teman untuk berangkat ke undangan pernikahan tersebut. Di unit saya, belum ada jawaban pasti. Saya pun pergi ke unit lain dan menanyakan hal yang sama. Pada akhirnya dapat satu rekan yang berniat berangkat. Kami pun sepakat untuk berangkat setelah saya selesai mengajar. Di waktu yang ditentukan hujan turun deras sekali. Saya dan kawan pun sempat menunda hingga hujan reda.

Sambil menanti hujan reda, saya pun kembali memastikan siapa saja yang akan berangkat ke undangan. Ternyata masih juga tidak ada yang berangkat. Semuanya akhirnya menitipkan amplop pada dua orang yang akan pergi. Saya sebenarnya sangat tidak enak jika tidak berangkat. Tapi mengingat hujan yang tampak belum mau berhenti, saya pun menyerah dan menitipkan amplop seperti kawan yang lain.

Di perjalanan pulang, saya bertemu dengan kawan dari unit lainnya. Dia dan teman-teman lainnya akan berangkat ke undangan naik mobil dan saya pun ikut dengan mereka. Setelah pencarian yang memakan waktu seharian, akhirnya saya pun bisa memenuhi kewajiban saya menghadiri undangan. Tak apalah amplop sudah dititipkan, yang penting saya masih bisa datang langsung.

–0O0–

Jujur, saya akan merasa tidak enak hati jika ada seseorang yang mengundang saya, lalu kemudian saya tidak memenuhinya. Jika tidak ada halangan dan masih bisa memenuhinya, tentu saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk datang. Menitipkan undangan adalah pilihan terakhir yang bisa saya lakukan. Saya melihat masih banyak orang yang tidak terlalu mementingkan arti dari sebuah undangan. Mereka cukup menitipkan amplop undangannya ke seseorang lalu pulang.

Saya rasa sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap pihak yang mengundang kita, arti kehadiran kita tentulah sangat berarti bagi mereka. Bukan uang atau barang yang menjadi inti dari undangan tersebut, tapi bentuk perhatian kita terhadap sesama rekan sejawat dan untaian doa yang dinanti bagi si empunya hajat. Untuk itu, tidak bisakah kita meluangkan waktu yang tidak setiap hari itu menghadiri setiap undangan yang ditujukan kepada kita? Biasakanlah untuk tidak hanya menitipkan amplop tetapi juga harus diusahakan agar kita bisa datang secara langsung. Kehadiran kita, para undangan, tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pihak yang mengundang kita.

Tidak ada salahnya meluangkan waktu sejenak berbagi perhatian kepada saudara-saudara kita yang telah sangat baik mengundang kita sebagai saksi kebahagiaan hidup mereka yang akan dijalani hingga tahun-tahun mendatang.

Spesial untuk murid saya: Selamat menempuh hidup baru🙂