Kadang kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran anak-anak kita. Pemikirannya yang masih polos dan cenderung masih terpengaruh oleh apa yang dilihat disekitarnya seringkali membuat kita terpengarah. Tidak terkecuali putra saya. Sudah lama sekali ia mendambakan kehadiran seorang adik, yang tentu saja tidak bisa saya penuhi. Saya pun berusaha memberikan pengertian padanya mengenai status saya.

Pernah satu ketika saat dia masih TK, dia bertanya pada saya “Ma, aku mau punya adik, dong?” Saya membalasnya dengan “Nanti ya kalau kamu sudah SMP. Kan saat itu kamu sudah besar.” Namun dia malah balik tanya “Loh, itu temen aku yang lain sudah punya adik. Ada yang dua lagi adiknya.” Saya cuma bisa tersenyum dan bilang “Oh, mungkin teman kamu sudah ga ngompol n ga suka ngambek lagi nak.” Akhirnya dia menyerah karena merasa masih suka ngambek dan mengompol.

Meginjak SD, permintaan akan adik tidak juga pudar. Saya pun memberikan pemahaman bahwasanya kita harus cari papa baru dulu untuknya. Pernah dia bilang ke saya, “Ma, aku mau punya ayah polisi ya?” “Loh, kenapa polisi? ” “Supaya kalau aku diganggu sama kakak kelas, aku bisa laporin!” Lain waktu dia akan bilang, “Aku mau jadi pemain sepak bola ma. Nanti cari ayahnya pemain sepak bola aja ya ma?” “Kenapa koq sekarang berubah lagi, nak?” “Iya, biar aku bisa diajarin main bola sambil salto!” Itu pengaruh tayangan sinetron Tendangan Si Madun.

Nah, semalam, dia melihat tayangan tentang lahirnya seorang bayi. Dia pun nyeletuk “Ma, aku dah ga tahan pingin punya adik nih!” Jawabku,”Iya, nanti, kita cari papa barunya dulu” Eh, dengan enteng dan polosnya dia bilang, “Minta dicariin sama Pak RT aja, Ma!” Saya pun tak tahan menahan gelak tawa. “Koq minta dicariin sama pak RT nak? Kalau ga cocok gimana?” Dia pun cuek saja sambil asyik melanjutkan konsentrasinya ke tayangan TV yang ia tonton, dan bilang “Habisnya lama sih punya ayahnya. Jadi punya adiknya lama juga.” “Tenang aja nak,” ujarku, “kalau Allah sudah berkenan, Insya Allah akan datang orang yang tepat untuk kita. Kamu bantu doa aja ya?”

Tak tahu darimana ia punya ide seperti itu. Sepertinya, kita harus benar-benar hati-hati mengawasi tontonan anak kita. Karena apa yang ia lihat dan dengar bisa menjadi bahan pemikiran untuknya juga.