Debat terbuka calon bupati kabupaten Bekasi di Metro TV baru saja berakhir. Walaupun tidak mengikutinya dari awal, namun saya sedikit banyak dapat membaca kualitas dari masing-masing kandidat. Karena melalui debat inilah, masyarakat dapat mengetahui kecerdasan, ketanggapan, ketepatan respon atau jawaban peserta debat atas setiap pertanyaan yang dillontarkan pada mereka.

Secara umum, dilihat per pasangan kandidat, menurut saya pasangan Sa’aduddin dan Jamalullail mampu memimpin dengan jawaban-jawabannya yang lebih cerdas dan lebih mengena atau tepat sasaran. Namun, penilaian tinggi saya terhadap SAJA ini lebih diperoleh dari kecerdasan jawaban yang dilontarkan oleh sang calon wakil bupati, Bapak Jamalulllail. Dengan pembawaan yang tenang dan kalem, beliau mampu menunjukkan tingkat kecerdasan dan pemahaman beliau terhadap permasalahan atau statement yang ditujukan pada mereka.

Sementara pasangan kandidat Neneng dan Rohim, sangat terlihat betapa mereka masih sangat hijau dalam hal memimpin pemerintahan kabupaten Bekasi ini. Ketika pasangan SAJA mempertanyakan kontribusi apa yang sudah diberikan saudara Neneng sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, beliau menjawab bahwa ia sudah memberikan kontribusi dana pembangunan. That’s it! Tak ada yang lain. Pertanyaan saya adalah apakah kontribusi uang menjadi sangat penting dalam sebuah kepemimpinan? Sebagai calon bupati pun, saudara Rohim, yang merupakan mantan sekretaris desa, masih tampak terlalu hijau untuk mampu memimpin wilayah dengan skala lebih besar.

Kandidat ketiga yaitu pasangan Darip dan Sayuti tidak juga lebih baik dibandingkan pasangan Neneng dan Rohim. Padahal saudara Darip adalah pejabat incumbant atau wakil bupati saat ini. Yang memalukan adalah bahwa saudara Darip tidak memahami pertanyaan yang dilontarkan oleh saudara Jamal mengenai MDP. Karena ternyata Darip tidak mengetahui kepanjangan dari MDP itu sampai ia meminta saudara Jamal untuk mengulangi pertanyaannya. Sangat aneh. Bahkan pertanyaan dari saudara Sayuti yang diajukan pada Sa’aduddin pun tidak berkelas dengan hanya menanyakan aktivitas golf sang bupati tersebut. Sangat nyata juga terlihat bagaimana Darip merasa kecewa terhadap Sa’ad karena tidak banyak dilibatkan dalam berbagai hal pengambilan keputusan selama ia menjabat sebagai wakil bupati Bekasi.

Menyimak debat mereka, saya rasa belum ada pasangan kandidat yang mampu membuka mata hati saya untuk memilih satu diantara mereka. Namun, secara logis, hasil melihat tayangan debat tersebut, SAJA lebih unggul dibandingkan NERO dan DAHSYAT, yang 75% terbantu oleh kecerdasan dan kepiawaian saudara Jamalullail dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan ke mereka.

Bagaimana dengan Anda, warga Bekasi, sudahkah siap dengan calon pilihan Anda? Jangan lupa, pilihlah kandidat terbaik dengan hati nurani, tanpa paksaan atau ancaman.

Apapan pilihan Anda, semoga pemilukada Bekasi ini dapat berjalan aman dan lancar. Amin…