Kisah anak tetangga…

Hari ini aku pulang sedikit lebih telat dari biasanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 sore. Di jalan menuju rumah, aku diberhentikan oleh dua orang anak tetanggaku. Rumahnya terletak hanya dua rumah sebelum rumahku. Dua anak perempuan yang cantik, kakaknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sementara sang adik berusia sekitar 4 tahunan.

“Mama Rayhan!” panggil Lidya, sang kakak.

“Ada apa, neng?” aku bertanya sambil menghampiri mereka. Lidya masih berpakaian seragam putih merah karena baru pulang dari sekolah, sementara adiknya membawa tas kecil, entah dari mana.

“Mama Rayhan punya kunci gembok ga?” tanya Lidya padaku.

“Wah, ga punya, say. Emangnya kenapa?” jawabku.

“Kunci gembok aku hilang di sekolah. Sekarang aku sama adik ga bisa masuk ke rumah”, jelasnya.

“Loh, ibu dan bapak kamu kemana?” aku penasaran.

“Ibu pulangnya nanti hari rabu, kalau bapak pulangnya ntar malam.”

Saya terkejut mendengar penuturan Lidya. Ibunya kerja dan pulangnya hari rabu? Kerja apa beliau sampai harus menginap dan meninggalkan dua anak perempuan yang masih kecil? Lalu, jika sang ayahpun pulangnya malam, dengan siapa dua malaikat kecil ini? Wah, aku benar-benar tidak percaya. Ada orang tua yang tega meninggalkan anak mereka dan mengurus diri mereka sendiri tanpa ada orang dewasa yang menjaga mereka. Sebegitu pentingkah mengejar uang hingga mampu meninggalkan anak perempuan di bawah umur tanpa pengawasan? Hati nuraniku tak dapat membenarkan hal ini. Aku memiliki seorang anak juga. Dan rasa-rasanya, aku tidak berani meninggalkannya tanpa aku titipkan pada orang yang lebih dewasa.

“Wah, kalau gitu, kamu berdua ke rumah mbah aja. Gak mungkin kan nunggu di luar rumah sampe bapak pulang? Ayo, dianterin!” saranku.

Kebetulan rumah mbahnya tidak terlalu jauh pula. Ada berjarak sekitar melewati 6 rumah saja dari rumahnya. Namun, yang pernah aku dengar dari penuturan para tetangga dan saudaranya, sang ibu tidak akrab dan tidak cocok dengan ibu mertuanya. Sering terjadi cekcok di antara ibu dan menantu perempuannya. Sehingga terkadang, anak dilarang untuk bermain di rumah mbahnya sendiri. Mungkin karena itu lah, sang kakak terlihat enggan dengan saranku untuk pergi ke rumah mbahnya.

“Ayo, ka. Ke rumah mbah..”, pinta adiknya.

“Yaudah deh. Aku jalan depan aja ke mbahnya. Makasih ya, Mama Rayhan?” jawabnya.

“Iya, say. Hati-hati ya? Beneran ga perlu diantar?”

“Iya, Mama Rayhan, ga usah.”

Akhirnya aku pun melanjutkan perjalananku. Aku sempat menoleh ke mereka, ternyata mereka belum beranjak dari depan rumahnya. Jadi, benar bahwa sang anak memang tidak diakrabkan dengan neneknya sendiri. Karena kasihan, aku menceritakan hal ini pada ibuku dan beliau menyampaikan kembali ke mbahnya mereka, yang merupakan teman baik ibuku. Tak lama, datanglah sang mbah yang dijemput oleh ibuku.

Tiba di rumahnya, dua anak malang itu masih berdiri termangu di depan rumahnya yang sangat mungil. Akhirnya sang mbah pun membujuknya untuk pergi ke rumahnya, namun tetap tidak mau. Untungnya, orang yang mengontrak di sebelahnya sudah kembali, sehingga bisa meminjam kunci kamarnya untuk membuka kunci gembok rumah kedua anak tersebut.

Masalah kunci rumah sudah terselesaikan. Yang jadi keheranan saya lagi adalah kedua anak tersebut sama siapa? Dibiarkan berdua saja? Kalau memang mereka bisa berduaan saja di rumah, aku sangat salut pada mereka. Tanpa orang tua, mereka harus mandi, merapihkan rumah, dan mencari makan sendiri. Namun, aku sangat menyayangkan tindakan orang tua mereka. Anak butuh perhatian dan pengawasan orang dewasa. Jika kedua orang tuanya sibuk, siapa yang akan mengurus mereka?

Wahai, Bunda, pikirkanlah kembali keputusan Anda bekerja jauh dan harus meninggalkan anak perempuan Anda yang masih kecil. Mungkin sebaiknya Anda mencari pekerjaan yang tidak harus menelantarkan anak dan menzalimi mereka secara psikis. Wahai Ayahanda, tepatkan keputusan Anda membiarkan istri dan ibunda dari kedua buah hati Anda bekerja di tempat yang jauh? Jika Anda bisa menyediakan orang dewasa bagi kedua anak Anda sebagai pengganti Anda berdua, mungkin hal ini masih bisa dibenarkan. Tapi, jika anak Anda dibiarkan sendiri tanpa pengawasan, saya rasa Anda telah menzalimi masa kanak-kanak mereka.

Salam hormat untuk Bunda dan Ayahanda dari Ananda Lidya dan sang adik.