Satu pagi di kelas pada saat jam fresh morning. Seharusnya, jadual program pagi itu adalah green education. Namun, fakta berbicara lain. Ada sedikit masalah yang harus dituntaskan dalam kelas saya. Sebagi wali kelas yang semua siswanya adalah putri, permasalahan kelas sudah dapat saya tebak. Ada laporan bahwa terbentuk geng atau kelompok tertentu di kelas.

-0O0-

“Mam, saya ga betah di kelas!”

“Loh, kenapa? Ada masalah lagi?”

“Anaknya pada main geng2an, Mam. Jadi ga berbaur semuanya. Jadi ada kelompok yang cuma mainnya sama mereka-meraka aja. Kita-kita ga diajak.”

“Saya mendengarkan keluhan mereka sambil sedikit tersenyum.”

“Koq, Mam malah senyum sih? Ini serius loh, Mam. Kita kan satu kelas, harusnya kan kompak, ga ada geng-geng kayak gitu. Jadinya ga nyaman, Mam.”

Menindaklanjuti keluhan siswa, saya pun mengajak mereka sharing dari hati ke hati mengenai permasalahan mereka. Tentunya harus ditegaskan pada mereka bahwa sharing ini bukan untuk mencari salah benar, tetapi mencari keselarasan dalam hidup satu kelas atau keluarga di sekolah.

-0O0-

Bahwa dalam hidup dan kehidupan, kita mengenal istilah yin dan yang. Baik buruk, benar salah, bagus jelek, senang benci. Tidak terkecuali pada proses pertemanan. Ketika ada 50 orang suka pada kita, maka kita harus pahami dan terima pula bahwa ada 50 orang lainnya yang tidak suka bahkan membenci kita. Ini adalah sunatullah. Haruskah kita marah? Tentu tidak. Yang namanya sunatullah itu adalah kodrat. Sudah menjadi sunahnya manusia ketika ada orang yang suka dan tidak suka pada kita. Karena dengan nilai positif dan negatif inilah hidup kita menjadi seimbang dan berimbang.

Dengan 50 orang yang suka dengan kita, maka kita dapat merasa nyaman dengan mereka. Kita pun dapat berbagi banyak hal dengan mereka. Berbagi suka, duka, cita, rasa, bahkan berbagi saran, guyonan dan kritikan. Hidup dengan 50 orang yang suka dengan kita berasa indah sekali. Kita belajar kasih dan sayang, belajar cinta, belajar saling memberi dan menerima, belajar menghargai, belajar empati, belajar simpati.

Sementara itu, dengan 50 orang yang tidak suka atau benci dengan kita, maka hidup kita serasa kurang nyaman. Ada saja perasaan tidak senang menghinggapi hati dan pikiran kita. Akan muncul perasaan iri hati, perasaan benci, perasaan saling tuduh, perasaan saling sindir, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Namun, dari sinilah kita belajar menata hati, belajar tenggang rasa, belajar saling menghormati perbedaan, belajar menjaga amarah, belajar meredam emosi, belajar berbaik sangka, belajar menjadi pribadi yang mampu menempatkan diri.

Kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk baik dengan kita. Kita tidak pula bisa menginginkan semua orang baik dengan kita. Itu bukanlah hidup. Itu hanya ada di dunia angan. Hiduplah seperi apa adanya hidup. Hadapi semuanya dengan bekal yang cukup, yaitu bekal iman, bekal ilmu, dan bekal amal, sehingga kita mampu menghadapi segala ujian, cobaan, rintangan dan hambatan kehidupan dengan tepat.

Jangan bermimpi bahwa kita akan bisa bersahabat dengan siapa saja. Jangan berharap bahwa kita akan bisa berjalan beriringan dengan siapa saja. Tidak mungkin. Tidak bisa. dan Tidak ada yang seperti itu. Ketika ada orang yang tidak menjadi teman terbaik kita, maka terimalah. Berarti teman terbaik kita bukanlah mereka. Demikian juga sebaliknya.

Jadi perbedaan gaya, perbedaan pertemanan, perbedaan kesukaan yang membuat manusia menjadi terkotak-kotak harus disikapi dengan pemikiran positif. Yang perlu kita kedepankan adalah bukan perbedaan-perbedaan itu, melainkan rasa persaudaraan dalam iman, ilmu dan amal saleh. Biarkan sahabat mencari teman terbaiknya, asalkan keutuhan dan kebersamaan dalam kelas atau keluarga kecil ini bisa tetap terjaga. Kuncinya ada di perilaku saling asah, saling asih, saling asuh dan tentunya saling menghargai perbedaan masing-masing individu dan kelompok.

Jadi, persahabatan yang terkotak-kotak adalah hal yang manusiawi dan wajar, sebagai perwujudan dari yin dan yang tersebut. Kita cukup saling menghargai perbedaan tersebut dan menciptakan kerukuan warga secara bersama. Rukun bukan berarti kita harus satu visi dan misi bukan?

-0O0-

Bagi siswa-siswa remaja seperti mereka, tentulah masih sulit menerima konsep 50:50 tersebut. Namun, saya harus bisa meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan pemilihan teman terbaik, teman jalan bareng, teman belajar bareng, dan teman berpetualang bareng. Yang penting, kita tetap masih bisa hidup beriringan dan bersanding layaknya sebuah keluarga dengan berbagai kepala dan pemikiran di kelas kita.