Hari ini adalah jadual konsultasi putra saya dan saya untuk ke sekian kalinya ke psikolog. Seperti biasa, sesi konsultasi kami dibagi dua, yaitu sesi untuk putra saya dan sesi untuk saya, orang tua. Karena terpisah, otomatis saya tidak pernah tahu apa yang dibicarakan dan dilakukan oleh putra saya dengan psikolognya. Yang pasti, psikolog akan selalu tahu dan bisa menyimpulkan perkembangan putra saya. Seperti ketok magic saja ya? Pikir saya sambil tersenyum.

Giliran saya masuk ke ruang konsultasi. Putra saya agak kesulitan membiarkan saya berbicara secara pribadi dengan psikolognya, sehingga ia akan cenderung untuk tetap tinggal di dalam ruangan. Namun, kali ini ada sedikit kemajuan. Dengan sedikit perjanjian waktu, akhirnya dia mau menunggu di luar selama kurang lebih 15 menit.

Dalam sesi kali ini, psikolog menilai bahwa ada perkembangan yang cukup berarti di diri putra saya tersebut. Yang pertama adalah raut wajahnya yang sudah tidak tegang atau menunjukkan emosi jika dibandingkan awal pertemuan kami dengan psikolog. Suaranya pun sudah mulai normal, artinya dia tidak lagi menahan suaranya sehingga menghasilkan bunyi suara yang kecil melengking, walaupun masih terkadang kembali ke suaranya yang kecil. Proses negosiasi pun tidak lagi berjalan alot. Yang tadinya dia bersikukuh tetap tinggal di dalam ruangan setiap kali sesi saya mulai, kali ini ia mau menunggu di luar meskipun tetap ada komitmen waktu konsultasi yang ditentukan olehnya.

Dalam sesi tersebut, saya menyampaikan bahwa ada satu hal baru yang terjadi dan di luar kebiasaannya, yaitu tidur di kelas. Awalnya memang dikarenakan putra saya tidur lebih malam dibandingkan sebelumnya sehingga rasa kantuk itu muncul tak tertahankan. Namun, menurut psikolog, jika ia tidur jam 10 malam dan bangun jam 6 pagi, maka kebutuhan tidurnya sudah mencukupi. Maka, rasa kantuknya ini kemungkinan disebabkan oleh hal lain, yaitu kekurangan zat besi.

Zat besi dibutuhkan oleh tubuh tidak dalam kapasitas besar seperti halnya karbohidrat dan protein. Namun, kebutuhan yag sedikit itu, jika tidak terpenuhi, akan menimbulkan dampak yang besar. Zat besi yang lebih banyak diperoleh dari asupan makanan yang sehat ini memang terkadang sulit dipenuhi. Hal ini disebabkan kurangnya ketertarikan anak terhadap asupan kacang-kacanan, sayuran hijau atau buah-buahan. Untuk mengantisipasinya, harus ada tambahan suplemen vitamin yang diberikan secara teratur bagi putra saya.

Kekurangan zat besi ini bertanda bahwa hemoglobin si anak kemungkinan kurang dari 11,5. Untuk itu, diperlukan cek darah di laboratorium untuk mengetahui dengan pasti kondisi hemoglobin putra saya. Dengan begitu, maka akan dapat diketahui apakah benar putra saya kekurangan zat besi. Akhirnya, akan lebih mudah lagi menentukan jenis suplemen yang tepat baginya.

Mendengar penjelasan psikolog, saya lumayan kaget juga. Ternyata, mengantuk bukan saja dikarenakan anak kurang tidur, namun ada pula pengaruh kurangnya zat besi yang walaupun kadar kebutuhannya hanya sedikit, tapi sangat penting dalam proses metabolisme tubuh. Tentunya hal ini harus segera mendapat perhatian saya khususnya, jika tidak ingin putra saya terserang rasa kantuk terus menerus dalam proses belajarnya di sekolah.