Saat seseorang sedang sedih dan terluka, pelukan merupakan satu cara untuk menenangkannya. Lihat saja bagaimana reaksi seorang bayi atau anak kecil. Ketika ia menangis, dan kemudian diangkat dan digendong oleh sang ibunda, dengan alamiah, tangisannya akan berkurang dan berhenti. Demikian pula, ketika kita merasakan kesedihan mendalam, disaat itulah pelukan dan usapan lembut seseorang sangat kita butuhkan.

Mungkin anda pernah mendengar istilah “lend me your shoulder, please?’ Bagaimana ketika kita menangis, sandaran bahu seseorang menjadi hal yang paling dibutuhkan. Itulah mengapa, sampai ada lagu yang berjudul “a shoulder to cry on”. Ketika dada terasa sakit karena beban menghimpit, tangisan menjadi satu cara untuk mengurangi rasa sesak itu. Dan tangisan pun membutuhkan tempat bersandar agar kita pun tak jatuh tersungkur.

Secara psikologis, pelukan dapat merangsang keluarnya hormon endomorfin yang bisa menenangkan pikiran. Hormon inipun dapat menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah sehingga sangat manjur untuk meredam dan menurunkan emosi. Pelukan pun bisa diartikan sebagai dukungan dan bisa memberikan kekuatan bagi orang yang sedang sedih. Sementara bagi orang yang memberi pelukan, hal ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya karena ia merasa dibutuhkan orang lain dan mampu memberikan empati bagi orang yang membutuhkan.

Sebagai seorang ibu dan juga berprofesi sebagai guru, pelukan merupakan hal biasa yang sering saya lakukan. Bagi putra saya, pelukan akan mampu menenangkan hatinya ketika ia sedang sakit, sedang marah, dan bahkan ketika ia sedang sedih. Pelukan pun akan mendekatkan saya pada putra saya sehingga ia akan merasakana kasih sayang dari sang ibunda.

Sementara pelukan pun sering saya berikan bagi para siswa (putri tentunya) yang sedang bersedih atau sedang galau, istilah anak remaja sekarang. Ini adalah bentuk perhatian dan dukungan saya, sebagai pengganti orang tua meraka di sekolah. Tentunya hal ini tidak dilakukan kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Karena memang ada karakter siswa yang tidak terlalu suka menunjukkan kesedihannya di hadapan gurunya. Namun, bagi sebagian siswa, pelukan itu bisa menjadi obat bagi hatinya yang sedang terluka.

Pada saat saya mendengar statement bahwa guru tidak boleh memberikan pelukan bagi siswa putrinya, saya sempat merasa aneh. Kenapa? Ternyata menurut penelitian psikolog, pelukan akan menimbulkan efek ketergantungan bagi siswa tersebut terhadap gurunya. Saya sedikit kurang sependapat dengan statement tersebut. Menurut saya, wajar saja ketika anak menjadi tergantung kepada guru. Sejauh ketergantungan itu tidak lantas menimbulkan perasaan yang harus selalu ditemani oleh sang guru. Siswa seperti anak kita sendiri. Ketika mereka sedih dan terluka, seperti layaknya anak pada umumnya, mereka butuh pelukan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.

Saya rasa, tidak hanya siswa atau anak-anak, terkadang orang dewasa seperti saya pun sangat membutuhkan pelukan seorang sahabat ketika kita sedang dalam kesedihan atau terluka. Jika dibilang ketergantungan, saya rasa tidak juga. Kebutuhan akan pelukan atau sandaran pada orang lain menjadi hal yang wajar dibutuhkan bagi setiap individu dalam keadaan sedih maupun senang. Pelukan menjadi satu bentuk perhatian dan dukungan kita terhadap orang lain. Bahkan bagi orang yang belum kita kenal sebelumnya.