Kirana dan Aisyah…

Dua nama yang indah dan cantik. Secantik rupa dan perilaku mereka.  Seindah tutur kata mereka. Sewangi harum bunga di  taman. Dua perempuan menawan inilah yang mampu membuat hati Ustadz Syafei tergoda. Yang pertama adalah istrinya tercinta, sementara yang kedua adalah guru dari putra tercintanya.

Kirana

Sebagai seorang istri yang sangat menyayangi suaminya, Kirana adalah sosok wanita yang tangguh dan kuat. Wanita yang tahu benar apa yang ia mau. Tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menjadi penurut. Dia pun tahu kapan harus memihak suami, kapan harus mendukung sang buah hati tercinta. Ketika datang seorang wanita yang menarik pandangan sang suami, tak ayal pertahanannya pun dia kuatkan. Dengan berbagai cara, Kirana akan menjaga dan mempertahankan suaminya. Ketika dirasakan ada ancaman datang, maka sangat wajar jika rasa cemburu pun tumbuh. Cemburu beralasan. Cemburu karena sayang. Cemburu karena tak ingin suami kepincut wanita lain. Maka, menjadi sangat posesif lah ia ketika sang suami dijambangi sekuntum bunga mawar. Apalagi bunga mawarnya itu tak kalah indah dan lembut dipandang mata.

Aisyah

Dialah sang bunga mawar yang selalu menghampiri si kumbang. Bunga desa yang cantik, lembut tutur katanya, santun tingkah lakunya. Ketika Aisyah memberi perhatian berlebihan pada anak sang kumbang, otomatis si pemilik kumbang itu pun meradang. Aisyah yang lembut dan ayu menjadi satu ancaman nyata bagi Kirana. Aisyah yang memberikan perhatian pada anaknya menjadi satu alasan mengapa Kirana sangat mencemburuinya. Aisyah yang kehadirannya selalu membuat sang kumbang terpana hingga terkadang salah ucap nama, tak ubahnya membuat darah Kirana mendidih bak dimasak dengan suhu tinggi.

Ya, Kirana pun meradang. Kirana pun melawan. Kirana pun menantang. Dengan berbagai cara dia akan mempertahankan suaminya dari daya pikat sang mawar berduri, Aisyah. Maaf Aisyah, sebaiknya dikau memikat kumbang yang masih sendiri, sehingga tidaklah hubungan orang lain menjadi terganggu karena kehadiranmu. Bang Syafei, jika belum bisa memberi kebahagiaan pada satu hati, untuk apa kau membaginya menjadi dua?

Terkadang, orang yang diberi kelebihan memahami agama lebih baik pun tidak bisa memungkiri kecantikan dan kelembutan wanita lainnya meskipun istri cantik dan putra tampan sudah dimilikinya. Kodrat priakah yang mudah tertarik dengan kecantikan wanita? Pastinya iya. Lalu bisakah tindakan Kirana yang cemburu dan kadang bersikap over protektif pada suaminya dibenarkan? Tentu saja. Lalu, bagaimana jika hal ini terjadi di keluarga Anda? Tentunya hanya Anda berdua yang tahu kapan menyikapinya. Yakinlah, setiap pasangan pasti punya gaya dan cara unik untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka.

Mau mencontoh Kirana dan Ustadz Syafei? Silahkan dijawab sendiri deh…:)