Hari ini, siswa SMK jurusan TKJ melaksanakan tes uji kompetensi jurusan atau biasa disingkat UJIKOM. Tes yang merupakan penentu kelulusan bagi siswa SMK ini, selain Ujian Sekolah dan Ujian Nasional tentunya,  sempat membuat mereka panas dingin dan tegang bukan kepalang. Bagaimana tidak, di ujikom yang bertemakan tentang DEBIAN ini, siswa tidak hanya diuji kompetensi mereka menguasai materi produktif jurusan namun juga ujian kesiapan mental dan spiritual. Karena kesiapan ilmu saja tidak cukup, butuh skill lain ketika menghadapi ujian, yaitu mental. Siapkah siswa menghadapi tekanan yang memang selalu muncul di setiap ujian akhir?

Ternyata tidak. Dari tiga puluh siswa yang mendapat kesempatan tes hari ini, tujuh diantaranya dinyatakan gagal dan wajib mengulang. Berdasarkan pengamatan dan laporan dari guru penguji, kesiapan materi mereka tidak diragukan lagi. Artinya, secara keilmuan, ketujuh siswa itu sudah paham dengan materi yang diujikan. Bahkan tiga orang diantaranya adalah siswa dengan nilai tinggi di kelasnya. Untuk itulah ketiganya diberi kesempatan untuk mendapat tes di gelombang pertama. Lalu, dimana letak kesalahannya?

Dari pengamatan penguji, faktor utama kegagalan adalah sebagai berikut:

1. Faktor mental; diantaranya adalah gugup, tegang, panas dingin, sehingga hal ini sedikit banyak mengganggu konsentrasi mereka. Bahkan ada salah seorang siswa yang benar-benar “ngeblank“, tak bisa mengingat sedikitpun apa yang harus ia kerjakan.

2. Faktor kelalaian; siswa kadang masih terpaku dengan hasil belajar mereka sebelumnya, sehingga terkadang mencampuradukkan data latihan dengan data ujian. Hal ini mengakibatkan data tidak sinkron dan akhirnya hasil pun tidak muncul.

Berdasarkan kesimpulan dari guru penguji di atas, tepatlah jika kita mengatakan bahwa lulus dan gagalnya seseorang menghadapi ujian tidak hanya ditentukan oleh faktor otak kiri, atau kemampuan keilmuannya saja, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh otak kanan mereka yaitu bagaimana sikap mental mereka dalam menghadapi ujian tersebut.

Untuk itu, kita harus mulai menanamkan pada siswa bahwa mereka harus mampu menyeimbangkan fungsi kedua otak tersebut dalam berbagai hal. Tidak saja ketika menghadapi ujian, tapi juga ketika kita akan memutuskan sesuatu atau tindakan-tindakan lainnya. Pada akhirnya, perlu motivasi dan pembinaan yang intensif dari pihak sekolah dan keluarga sehingga siswa benar-benar siap menghadapi kehidupannya secara berimbang.

Konsep pembelajaran menyenangkan atau istilah bahasa Inggrisnya “fun learning” harus benar-benar diadaptasi oleh semua guru, tanpa kecuali. Karena dengan konsep “fun“, anak akan belajar menggunakan dua fungsi otaknya, yang kiri untuk menerima dan menyerap materi, yang kanan untuk bersikap positif dalam penerimaan ilmu yang didapat. Dengan begitu anak terbiasa menggunakan kedua belahan otak tersebut dalam kehidupan kesehariannya. Ke depan, mereka akan mampu menghadapi berbagai macam ujian kehidupan dengan hasil yang jauh lebih maksimal.

Semoga…