Aku baru saja melihat tayangan yang mengharu biru. Entah karena aku terlalu sensitif atau memang kisahnya sangat menyentuh hatiku, air mata mengalir sepanjang film pendek yang berdurasi sekitar 4 menit itu.

Begini kisahnya:

Seorang laki-laki dan ayahnya yang sudah renta sedang duduk berdua di bangku taman depan rumah. Tak ada perbincangan sepatah katapun. Si anak sibuk dengan korannya. Si ayah tampak sedang merenung.

Tak berapa lama, terbanglah seekor burung pipit dan hinggap di atas pohon perdu di depan si ayah.

“Apa itu?” kata si ayah.

“Burung pipit,” jawab anaknya menoleh sebentar dan kembali asyik dengan korannya.

“Apa itu?” tanya si ayah lagi.

“Sudah kubilang, itu burung pipit”, jawab si anak lagi dengan nada suara yang sedikit kesal.

Si burung pipit terbang kembali ke arah lapisan semen yang ada di depan si anak.

“Apa itu?” tanyanya untuk yang ke tiga kalinya.

“Burung pipit. B U R U N G  P I P I T!” setengah menggeram si anak menjawab. Dengan raut wajah yang sudah mulai mengeras.

“Apa itu?”

“Ayah, kenapa kau melakukan ini? Sudah beberapa kali aku jawab itu BURUNG PIPIT! Tak bisakah kau mengerti?” bentak si anak.

Si ayah lalu bangun dari duduknya dan beranjak pergi.

“Ayah, kau mau kemana?” si anak sudah mulai melunak tapi dengan nada masih kesal. Si ayah hanya melambai tangan, mengisyaratkan si anak untuk duduk saja.

Tak berapa lama kemudian, si ayah kembali dengan membawa buku kecil yang sudah sangat kumal. Dibukanya buku itu di halaman tertentu. Lalu ia menunjukkan halamannya dan meminta si anak untuk membacanya.

Hari ini aku duduk di taman dengan putraku yang beberapa hari lalu baru menginjak usia 3 tahun. Di depan kami, bertengger seekor burung pipit. Ia bertanya padaku. “Ayah, apa itu?” sebanyak 21 kali. Akupun menjawabnya sebanyak 21 kali pula, “Itu burung pipit, nak”. Dan aku memeluknya setiap kali ia menanyakan pertanyaan yang sama, lagi dan lagi, tanpa ada perasaan kesal dan marah. Hanya ada perasaan cinta untuk putra kecilku yang innocent tanpa dosa.

Selesai membaca buku, yang ternyata jurnal si ayah, si anak pun terdiam, dan akhirnya memeluk ayahnya dengan perasaan haru dan penuh penyesalan.

—0O0—

Betapa kisah yang sangat menyentuh. Sungguh satu pembelajaran yang sangat penting bagi anak terhadap orang tuanya. Betapa orang tua sangat menyayangi anaknya dari kecil hingga dewasa. Tapi, apa balasan kita terhadap mereka? Mereka tidak perlu harta kita, mereka tidak perlu uang kita. Mereka hanya butuh sedikit perhatian dan cinta yang tulus yang diberikan pada mereka di usianya yang sudah senja.

Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan meninggalkan kita, atau bahkan mungkin kita lah yang terlebih dahulu meninggalkan mereka. Kita tidak tahu bagaimana mereka akan pergi selama-lamanya. Untuk itu, selagi mereka masih ada, rawatlah mereka dengan baik. Sayangi dan cintai mereka sepenuh hati sebagaimana mereka melakukannya pada kita tanpa pamrih dengan penuh cinta dan sayang…