Oh, Dewa Cinta.Kau ada dimana? Aku ingin curhat nih!

Itu kalimat yang aku tuliskan didiariku. Entah mendengar atau tidak, tapi aku merasa aku harus mengabarkan berita bahagia ini pada dewa cinta. Supaya dia tahu, kalau ada makhluk bumi yang sedang senang bukan kepalang. Ada aku yang sedang di mabuk kepayang. Ada diriku yang terbang melayang.

Malam itu, dia menyapaku. Tertulis indah di dinding buku mukaku.

“Hai, apa kabar?” sapanya sederhana, namun begitu indah dipandang mata.

“Aku sudah upload ya foto-fotonya. Silahkan dicek.” tulisan berikut yang ada di dindingku.

Pesan itu terkirim beberapa jam sebelum aku on line. Sayang sekali, sangat terlambat aku membacanya. Seandainya aku ada disana saat ia menyapaku, tentu aku bisa sedikit berbincang dengannya. Dewa cinta, kenapa pula kau biarkan ia online di saat aku sedang bertugas? Tak bisakah kau tahan dia lebih lama supaya kami bisa saling bertatap dinding?

Ah, tapi semuanya sudah berlalu. Aku tak boleh menyesal. Aku harus fokus dengan sapaannya. Lama atau sebentar, pesan itu tetaplah datang di dindingku. DI DINDINGKU! aku teriak dalam hati. Kurasa tulisannya adalah coretan terindah yang pernah ada di dindingku. Akan aku bingkai, akan aku simpan dan akan aku kenang seumur hidupku.

Aku pun membalasnya.

“Hai, juga. Alhamdulillah gue baik-baik aja. Lo sendiri gimana? Kapan ke Jakarta lagi?”

Aku mengirimnya.

Tapi setelah berulang kali aku baca, koq berkesan agresif sekali ya? Akankah ia membaca nada dibalik balasanku itu? Ah, semoga saja tidak. Tidak secepat itu. Jangan sekarang. Tunggu sebentar lagi, dewa cinta. Tahan dirinya agar ia belum menyadari cintaku. Aku belum siap. Aku masih ragu. Aku tidak ingin mendengar penolakan, sekarang.

Aku pun menulis lagi.

“Gue udah lihat foto-fotonya. Keren! Gue suka. Terima kasih ya udah share :)”

Lagi-lagi aku baca kembali balasanku. Koq ada yang aneh juga ya? Berkesan manja dan malu-malu. Duh, dewa cinta. Kenapa pula tulisanku jadi seperti ini ya? Apa ini karena pengaruh kamu. Karena rasa cinta yang kau kirimkan padaku. Karena rasa rindu yang kau tumbuhkan di dadaku? Bagaimana kalau dia membacanya? Akankah ia menyadarinya?

Aduh, cinta. Janganlah kau buat diriku galau seperti ini. Kau sudah membuatku bertindak atas nama cinta. Aku terbawa arus cintamu. Aku terjerumus ke gelombang pesonamu. Aku….semakin cinta kepadamu.