Siang ini, saya dan seorang kawan meluncur ke rumah salah seorang siswa. Hampir dua minggu ini si siswi tidak masuk sekolah. Alasannya? Ingin pindah sekolah. Karenanya kami pun melakukan home visit untuk bicara langsung dengannya. Dia berkeluh kesah bahwa sejak awal dia memang tidak berniat sekolah disini. Dia lebih memilih melajunjutkan sekolah di kampung. Karena kebetulan, SMP nya pun dia bersekolah di kampungnya. Lebih enak, lebih nyaman, lebih santai, katanya lagi.

Dari pihak orang tua, ingin anaknya melanjutkan di sini, dengan alasan bahwa ingin putrinya tersebut mendapatkan pendidikan yang lebih bagus dan tentu saja lebih bisa memantau perkembangan sang putri. Karena, jika ia tinggal di kampung, otomatis ia harus berpisah dari orang tuanya dan tinggal bersama keluarga bibi dan pamannya di sana.

Dari obrolan dengan kedua belah pihak, yaitu si putri dan orang tuanya, dapat kami ambil benang merahnya:

1. Anak merasa sudah nyaman dengan kehidupan dia di kampung. Dia pun merasa enjoy dengan gaya pengasuhan keluarganya di kampung. Selama tiga tahun tinggal bersama bibinya, dia merasa tidak ada yang pernah memarahi atau mengatur-ngatur dia.

2. Ketika anak kembali tinggal bersama orang tuanya, dia kembali harus menyesuaikan diri lagi dengan pola pengasuhan yang berbeda dari sebelumnya. Sebagai orang tua kandung, tentunya lebih mempunyai harapan yang lebih terhadap anak tersebut. Sehingga ketika anak berperilaku tidak sesuai yang diharapkan, maka akan keluarlah nasehat-nasehat dari mulut mereka.

3. Dengan pola asuh yang berbeda, si anak merasakan bahwa dia tidak nyaman tinggal dengan orang tuanya. Sementara, si orang tua merasa bahwa anaknya tidak mau mendengarkan apa yang diucapkan oleh mereka.

4. Disini ada miskomunikasi antara anak dan orang tua. Si anak tidak mau berterus terang dan terbuka kepada orang tuanya apa yang sebenarnya yang ia rasakan, sementara orang tua pun merasa bahwa mereka sudah memberikan kesempatan kepada si anak untuk bicara tetapi tidak dimanfaatkan.

5. Untuk itu, harus ada keterbukaan di antara keduanya sehingga keinginan dan perasaan anak akan bertemu dengan keinginan dan perasaan orang tua. Harus benar-benar dibicarakan dari hati ke hati. Karena jika dipaksakan pun, dikhawatirkan anak akan mengalami hambatan di sekolah.

Kami yakin ketika permasalahan ini diselesaikan dengan keterbukaan dan kepala dingin, akan dihasilkan keputusan yang tepat, baik bagi si anak, orang tua, maupun pihak sekolah. Sekolah, sebagai pihak ketiga, hanya mampu menjembatani dan memberikan berbagai masukan sebagai bahan pertimbangan. Keputusan akhir tetap kami serahkan kembali kepada anak dan orang tua.

Disinilah diperlukan keahlian komunikasi bagi orang tua dan anak. Keahlian komunikasi ini tidak instan, perlu pembelajaran yang rutin dan banyak membaca referensi baik dari buku maupun dari internet. Karena menjadi orang tua berarti siap selalu belajar dan meningkatkan kualitas diri kita demi kebaikan anak-anak kita ke depannya. Tidak terkecuali juga para guru, yang juga diharapkan senantiasa meningkatkan ilmunya untuk mampu menangani kasus-kasus yang dihadapi oleh siswa didiknya.