Saat itu aku baru saja kembali dari luar kota. Lelah, capek, pegal, semuanya gabung di badan. Belum lagi aku harus menyapu lantai, membereskan barang bawaan, dan mencucinya. Akupun langsung menyibukkan diri di dapur dan kemar mandi. Kubiarkan putraku, yang baru berusia tujuh tahun, beristirahat menonton TV.

Tak berapa lama terdengar gedoran pintu samping. Terdengar sayup-sayup tidak begitu jelas, aku masih sibuk mencuci. Semakin lama, gedoran pintu ini terdengar semakin keras diiringi dengan suara teriakan. Tersadar, ternyata itu suara ibuku. Aku sempat bingung, kenapa pula ibu harus menggedor pintu dan teriak seperti itu. Segera aku bukakan pintu, khawatir teriakannya akan menimbulkan banyak pertanyaan dari para tetangga.

Tampak ibuku sangat emosi dengan raut muka yang sangat menyeramkan.

“Ga usah teriak-teriak kali bu?” kataku.

“Bukannya dibuka dari tadi!” sambil masih emosi.

“Loh, mana tau kalau ibu ada di luar dan pintu dikunci. Aku kan lagi nyuci bu, ga kedengaran”, aku balik sewot.

Entah kenapa, aku jadi kesal dengan sikap ibu. Aku baru tahu ternyata, putraku mengunci ibuku dari dalam. Pantesan saja dia gedor-gedor pintu gitu. Yang aku heran, kenapa segitu marahnya ibuku. Padahal kan bisa aja putraku itu bercanda.

Dengan kondisi yang capek plus kesal, darahku mendidih. Aku kesal dengan ibu. Kenapa ibu tidak pernah akur dengan cucu nya sendiri? Kenapa ibu tidak mau mengalah dengan cucunya? Aku pun curhat dengan salah satu kakakku menceritakan kejadian itu. Sampai-sampai aku mengutarakan niat untuk tidak tinggal sama ibu lagi.

“Lebih baik jauh dikangenin deh, daripada deket berantem terus!” kataku padanya di telepon.

Kakakku berusaha untuk memahamiku dan juga mengerti kondisi ibu kami. Memang ibu punya penyakit stroke sejak 8 tahun lalu. Sikap dan tingkah lakunya seolah kembali menjadi anak kecil. Dia akan marah jika keinginannya tidak dipenuhi. Atau kadang kala dia akan memperebutkan berbagai hal dengan putraku, semisal rebutan remote control dan TV di ruang tengah. Jika sedikit saja dipersalahkan, maka ibu akan teriak histeris hingga mengundang tetangga berdatangan. Malu kadang yang kurasakan. Kesal juga kenapa mesti teriak begitu.

Akhirnya kakakku sedikit bercerita. Analog katanya. Bukan untuk menghalangi niatku untuk hidup terpisah dengan ibu. Tapi sebagai renungan saja.

“Teteh punya teman. Dia anak bungsu. Sama seperti kamu. Walaupun kamu sebenarnya bukan bungsu. Tapi karena kamu perempuan paling kecil, makanya bisa dianggap bungsu lah. Awalnya tidak tahu kenapa pada akhirnya ibunya tinggal dengan dia. Ibunya sudah sangat sepuh. Sudah sakit-sakitan. Sering kali mereka bertentangan. Bahkan terkadang teman teteh itu suka ngomel juga ke ibunya. Tapi, lucunya, jika ibunya buang hajat, dia hanya mau dibersihkan oleh teman teteh ini. Hanya mau tinggal dengannya. Bahkan kakak-kakaknya sudah sangat ini membawa ibunya itu pindah ke rumah mereka. Tapi, lagi-lagi si ibu tidak mau. Hanya mau dengan si bungsu, walaupun mungkin terkadang sering bertengkar juga. Anehnya, sejak ibunya tinggal bersama temen teteh itu, rejeki keluarganya selalu lancar. Usaha suaminya yang baru dirintis karena dia terkena PHK pun berjalan dengan mulus. Mungkin ini satu hikmah yang bisa kita ambil. Bahwa kehadiran ibu, sebagaimanapun  keadaannya, akan membawa sedikit banyak berkah untuk kita. Nah, kita cukup diminta bersabar dan ikhlas. Karena bagaimanapun, ibu pasti punya alasan sendiri kenapa dia lebih senang kamu tinggal ada di dekatnya, walaupun mungkin sering bertengkar atau emosi.”

Mendengar cerita kakak, aku sempat meringis dan menangis, walaupun kutahan-tahan agar tidak terlalu terdengar oleh kakakku. Mungkin aku memang kurang bersabar menghadapi ibu. Aku belum bisa mengakrabkan ibu dengan anakku. Ibu, dengan keterbatasannya saat ini jauh lebih membutuhkan perhatian kita, anak-anaknya. Seharusnya aku bersyukur bahwa ibu tidak mau aku jauh darinya. Mungkin itu ungkapan sayang ibu padaku tanpa pernah ia ucapkan. Perasaan ingin diperhatikan sama dengan perhatian yang kuberikan pada putraku semata wayang. Ada kecemburuan disana. Ada rebutan perhatian antar ibu dan cucunya. Tentu nya harus aku yang menyatukan mereka, sehingga cucu dan nenek bisa saling akur dan hidup bersama dengan indah.