Di pertemuan ku yang terakhir dengannya, kami sempat berfoto bersama. Tidak berdua tentu saja. Tapi beramai-ramai dengan kawan lainnya. Wah, senangnya dalam hati. Andai saja kawan-kawanku sedikit lebih peka, pasti akan terlihat jelas ukiran senyumku di wajahku. Senyum di kulum. Mata berbinar.Pipi bersemu merah.

“Oke? Udah siap belum?” si fotografer yang merupakan rekan kerjanya memastikan kesiapan kami.

“Tungguuuuu…gue ikutan!” salah seorang kawan berlari kecil menghampiri kami.

“Oke…siap ya? Satu…Dua…TIga!”

Satu gaya. Dua gaya. Tiga gaya. Sampai ada beberapa kali jepretan foto, barulah sesi foto itu beres. Ah, berasa foto model saja kami. Namun, tentu saja aku tidak terlalu fokus dengan si fotografer. Aku lebih aware ke seseorang yang berdiri tepat di sisi kiriku. Aku merasakan dia menyentuh pundak kananku. Tak yakin dengan perasaanku, aku pun menoleh. Oh, Tuhan. Si malaikat itu tepat berdiri di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh pundakku. Dia tersenyum, aku pun membalasnya.

Ketika si fotografer memberikan aba-aba lagi, kami pun beralih ke kamera. Aku merasakan, tangannya yang bergantung di pundakku, diturunkannya. Ah, sayang sekali. Aku kehilangan kontak dengannya. Walaupun hanya sekadar memegang pundakku. Namun, sentuhan itu membuatku mabuk kepayang. Senangnya tak terkira. Beberapa detik kemudian, lengan kami bersentuhan kembali. Oh, hangatnya. Dewa cinta, kenapa pula kau mengujiku seperti ini? Aku jatuh. Aku mabuk. Aku terkulai. Tangkaplah aku, dewa. Jangan biarkan aku terkulai di depannya. Tidak sekarang. Belum saatnya.

“Jangan lupa ya, Kal. Fotonya di share di group kita!” salah seorang kawan mengingatkannya.

“Sip lah. Tapi gue ada job lain nih. Jadi harus berangkat duluan. See ya teman-teman. Sampai ketemu lagi!”

Akhirnya berpamitlah dia pada kami. Tangan terulur dan berjabat dengan hangat. Tak terkecuali aku. Dia menghampiriku. Dengan senyum mengembang, dia menawarkan tangannya untuk berjabatan denganku. Aku pun membalasnya. Tangannya yang lebar seolah menangkap erat tanganku yang kecil. Hangat tangannya seakan berpindah ke tanganku dan menjalar menyebar ke seluruh tubuhku. Pandangan matanya tak terlepas dariku.

“Sampai ketemu lagi ya?”

“Oke…” jawabku singkat. Sesingkat jabatan tangannya. Aku sempat terdiam. Termangu. Ada perasaan perih di dadaku. Tak ingin melihatnya pergi. Tak mau melihatnya berlalu. Tak bisa berpikir ini hanyalah mimpi. Tidak. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Aku merasa kehilangan. Bahkan aku sudah mulai merindukannya.

Rindu telah menjadi sahabatku sejak itu. Rindu telah memberikan mimpi indahku tentangnya. Rindu yang terasa menyiksa. Rindu yang belum jua ingin pergi dariku. Rindu yang membalut setiap malam-malam ku.