Akhirnya ada juga kesempatan ku bertemu kembali dengannya. Senyumnya, ah sungguhlah menawan. Lesung pipinya membuat kesangarannya hilang tak berbekas. Ikat rambut di atas tengkuknya bak pengigat bahwa dia adalah lelaki dengan gaya urakan. Biru kemejanya menambah gagahnya sang pangeran. Oh, Tuhan. Kau ciptakan makhluk seindah itu. Goyahlah iman ku.

“Hai, apa kabar?”

“Alhamdulillah baek. Masih inget gue?”

“Ingetlah. Kita kan sekelas. Dan lu tuh cewek pinter yang pelit ngasih contekan!”

Oh, My God! Lelaki ini masih ingat diriku. Ingat pula seperti apa aku kala itu. (Maaf ya, Kal. Kalau saat itu aku pelit. Aku memang diajarkan terlalu kaku oleh bapak. Tidak ada istilah contek menyontek untuk ulangan. Entah demi nilaiku tetap tinggi atau apalah alasannya!)

Tak apalah kalau hal itu yang diinggatnya. Aku sudah sangat bahagia dan tersanjung dengan ingatannya. Aku memang bukan cewek yang diingat karena kecantikanku. Bukan pula karena kecentilanku. Atau bahkan karena kekayaanku. Aku bukan si cewek mempesona yang selalu ada dalam setiap kisah masa remaja. Aku hanyalah aku. Perempuan biasa saja yang cuma dikenal karena sedikit lebih pintar dibandingkan yang lain. Gadis yang dipandang oleh kawan lain karena bersahabat dengan cewek-cewek keren di sekolah.

“Kerja dimana sekarang?” suara merdunya yang diiringi dengan lesung pipi kembali membuyarkan lamunanku.

“Gue ngajar, Kal. Lu?”

“Wah, gue sih serabutan aja. Usaha sana-sini. Lebih banyak ke freelance sih.”

“Asyik ya bisa kerja sendiri tanpa terikat aturan?”

“hahaha…lumayan enak lah. Ga stres sama aturan!”

Duh, tawanya. Tuhan, tidak kuat aku berlama-lama bersamanya. Bawa aku pergi dari hadapannya.Untuk saat ini saja. Aku belum siap berlama-lama dengannya. Jantungku berdetak kencang. Tingkahku khawatir salah. Aku tidak ingin dia bisa membaca isi pikiranku. Bisa menebak bahasa tubuhku. Bisa menerka apa dibalik kata-kataku. Belum saatnya.

“Kal, sini! Ada yang mau gue tanyain!” salah seorang kawanku yang lain memanggilnya.

Dia pun pamit denganku. Thanks God. Terima kasih, Tuhan. Aku terbebas dari pesonanya. Aku terlepas dari jerat rasaku padanya. Degup jantungku mulai kembali normal. Untuk sementara. Untuk saat ini saja. Karena aku tetap ingin bertemu dengannya. Masih ingin berbincang dengannya. Masih mau menatap wajahnya. Senyumnya. Tawanya. Pesonanya.

~15 Februari 2012~