source: http://andromaedalophguopinchao.blogspot.com

Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan jatuh cinta padanya. Dia yang selengean. Dia yang cuek. Dia yang santai. Dia yang spontan. Dia yang urakan. Dia yang kocak. Dia yang tegas. Sementara aku? Orang lebih mengenalku sebagai sosok yang perfeksionis. Yang ingin segala hal berjalan sesuai rule nya. Yang rapih. Yang sedikit tidak percaya diri. Yang kaku. Yang emosional. Yang tidak tahu bagaimana menarik hati para kumbang yang berterbangan.

Aku mengenalnya sejak lama. Dia adalah kawan semasa remaja ku dulu. Kawan seperjuangan di SMP tepatnya. Saat itu, dia tidak sedikitpun menarik perhatianku. Oh, tidak secuilpun! Aku lebih suka cowok yang rapih, wangi, pintar, kalem, berwibawa. Yah, setingkat manusia-manusia yang tongkrongannya di ruang OSIS dulu.

Dia? Tidak ada di kamus “kumpulan cowok-cowok idamanku”. Dia lebih senang nongkrong di warung-warung kecil di depan sekolah. Bajunya hanya dimasukkan ke dalam celana jika ada guru di sekitarnya. Di luar itu? Bajunya akan dibiarkan tergerai bebas menutupi celana birunya. Rambut gondrong dan dikeriting! (Oh, ga banget deh!) Isi tasnya hanya satu atau dua buku tulis saja. Pulpen? Jangan harap dia akan membawanya. Kami para cewek harus rela dipaksa meminjamkan pulpen kepadanya.

Namun, duniaku berkembang. Pandangan hidupku pun berubah. Bahkan pria yang mampu membuat hatiku berdegup kencang tak terelakkan sudah bergeser kriterianya. Ah, hidup ternyata penuh kejutan. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Kali ini, bukan rasa benci yang muncul. Bukan pula pandangan merendahkan yang kuberikan. Hatiku bergetar. Senyumku mengembang. Mataku terbuka lebar. Dan pijakanku serasa bergoyang dan melayang.

Dia, makhluk yang dulu aku picingkan sebelah mata, kini membuatku mabuk kepayang. Entah setan atau malaikatkah yang membisikkan kata-kata indah di telingaku. Aku jatuh hati padanya. Pada pandangan pertama setelah sekian lama berpisah. Oh, dia masih seperti yang dulu. Cuek, selengean, spontan. Senyumnya begitu menawan. Hatiku meleleh dibuatnya.

Dia yang begitu berbeda denganku, dia yang begitu jauh dari kebiasaanku, dia yang tidak sedikitpun mirip denganku dalam berbagai hal. Tetapi, dialah yang membuatku jatuh cinta (lagi).

Duhai, dewa dan dewi cinta. Sampaikanlah pada dia yang di sana. Kabarkan bahwa ada aku yang jatuh cinta padanya. Katakan padanya aku disini menantinya. Ceritakan keadaanku padanya. Aku merana karena memendam cinta padanya. Aku menangis menunggu dia datang. Aku meratap menginginkan dia menginginkanku…

Aku mencintainya. Aku jatuh cinta padanya. Cinta yang ada karena dia begitu berbeda…

~14 Februari 2012~