Pukul 6.30 pagi, aku sudah sampai di gerbang sekolah. Masuk ke dalam, sekolah masih sangat sepi. Mungkin karena cuaca sedikit lebih dingin dari biasanya, sehingga warga kampus masih betah di rumah. Kutitipkan tas ranselku yang berisi pakaianku dan pakaian putraku di pos satpam. Berat nian tas itu jadi aku terpaksa meninggalkannya di pos dan menuju ke sekolah. Bahkan rputraku pun aku minta menunggu di pos supaya dia tidak kelelahan harus mengikutiku bolak-balik mengurusi tetek bengek yang belum beres.
Sambil bergegas, aku menuju ke gedung sekolah. Disana hanya kujumpai office boy yang sedang sibuk membersihkan ruang kantor. Aku pun langsung mengerjakan pekerjaanku yang masih ketinggalan. Sayangnya, printer yang tersedia ternyata kehabisan tinta. Dengan sedikit menyesal, aku pun tidak jadi mencetak nama kelompok dan pembimbing guru yang ada dalam setiap tronton. Sehingga dengan terpaksa, aku pun mencoret saja nama yang tertera di kertas dan menukarnya.
Waktu bergeser ke pukul tujuh. Saatnya aku kembali ke lapangan untuk ikut mengecek kedatangan lima tronton yang akan membawa kami ke lokasi homestay. Di lapangan basket, sudah mulai banyak anak-anak peserta homestay yang sedang menunggu sambil sesekali bersenda gurau. Ketika tronton siap dan guru sudah mulai lengkap, acara pembukaan pun dimulai. Dilanjutkan dengan pengecekan peserta yang belum hadir. Dua puluh menit berikutnya, peserta sudah siap di tronton masing-masing. Dengan pembagian dua tronton putra dan tiga tronton putri, dimana tronton terakhir ditambah dengan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk home stay.
Tepat pukul 7.25 kami pun berangkat menuju perkebunan cianten, tempat homestay kami kali ini. Perjalanan diperkirakan memakan waktu empat jam. Awalnya berjalan dengan mulus, dalam artian sebenarnya loh, namun setengah perjalanan berikutnya, bisa dibilang menguji kekuatan iman, kematangan mental dan ketahanan fisik! Bagaimana tidak, kami harus melewati jalan dengan rute yang berkelok, sempit (hanya cukup untuk lewat satu truk sementara mobil dan motor dari arah berlawanan harus berhenti kalau tidak ingin saling senggol), dan jalan bebatuan yang tidak mulus, bahkan banyak sekali polisi tidurnya. Duduk di depan mungkin tidak terlalu terasa, tapi bagi yang duduk di bagian belakang tronton, rute itu merupakan siksaan yang cukup berat. Sampai-sampai iman pun bertambah saking seringnya kami berzikir setiap melewati jalan berlobang atau polisi tidur.
Kami tiba tepat pukul dua belas siang. Yang pasti sholat jumat sudah ketinggalan, akhirnya kami pun menunggu di pos perkebunan. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sambil menunggu warga selesai melaksanakan sholat jumat di masjid. Jam satu siang kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena jalan yang baru dicor itu tidak memungkinkan tronton untuk masuk. Beriringan, walaupun lelah, kami menuju lokasi. Namun, rasa lelah kami terhapuskan dengan suasana yang tenang, udara yang sejuk dan pemandangan yang indah. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pohon-pohon teh yang tertata rapi siap dipetik pucuknya, dan hutan yang lebat tampak dari kejauhan.
Sesampainya di masjid, satu hal yang membuat teriakan kembali muncul adalah tanda x (silang) yang ada dipojok atas setiap telepon genggam yang kami bawa plus bacaan ‘no service’! Wah, ujian lain yang mungkin akan membuat kami sedikit merasa benar-benar terpencil dan terasing di bumi perkebunan cianten. Setelah sholat dzuhur dan pembagian kelompok, aku dan rekan-rekan guru lainnya langsung menuju pos atau basecamp pembimbing. Sambil mencari sinyal tentunya!🙂
Di pos, kami langsung disambut si tuan rumah, umi dan putri serta cucu-cucunya yang sangat ramah dan baik. Dari mulut merekalah diketahui bahwa sinyal memang menjadi masalah serius disini. Bahkan si umi cerita bahwa kadang mereka harus menyimpan hp di galah tinggi untuk kemudian mendatangkan sinyal. Jadi yang bisa menangkap sinyal hanyalah hp jenis 3G dengan jaringan kartu indosat. Akhirnya dengan berbagai cara, kami pun berusaha untuk mendapatkan sinyal. Aku sampai harus mengangkat hp ku setinggi mungkin sampai tangan dan lenganku pegal-pegal. Guru dan beberapa siswa pendamping harus menempelkan hp mereka di tembok. Hingga satu waktu, seorang murid menyampaikan bahwa cukup dekatkan gelas kaca dengan hp kita, maka sinyal pun akan datang. Penasaran, aku pun mencobanya dan ternyata berhasil!
Menurut keterangan salah seorang rekan guru, cara kerja sinyal hp sama dengan spektrum cahaya. Fungsi gelas kaca itu untuk menangkap gelombang-gelombang sinyal hp tersebut yang akhirnya dipancarkan ke hp kita. Ada bahkan anak-anak yang harus naik gunung untuk bisa mendapatkan sinyal! Sinyal hp ternyata menjadi isu utama di homestay kami kali ini. Ini menandakan betapa masyarakat kota benar-benar tidak bisa hidup tanpa si telepon genggam itu. Seandainya kita fokus dengan nilai pengabdian dan sosial yang akan dijalankan di sana, tentunya tersendatnya sinyal menjadi keuntungan sendiri sehingga apa yang akan kita kerjakan menjadi fokus.
Tapi demikianlah kehidupan. Ada perbedaan mendasar antara masyarakat kota dan pedesaaan. Mengesampingkan  isu sinyal, keakraban antar keluarga disana patut ditiru. Bahwa mereka sangat menjalin silaturahim antar tetangga dan menjadi tuan rumah yang sangat ramah. Mungkin masalah teknologi mereka sedikit tertinggal, tetapi masalah hidup bermasyarakat mereka jagonya. Banyak yang kita dapat ambil dari kehidupan mereka.
Semoga perjalanan kami di hari pertama homestay menjadi pengalaman yang dapat memberikan hikmah dan pembelajaran berharga bagi kami sendiri dan bagi orang lain.
(tulisan pertama dari rencana tiga tulisan)