Ada kisah menarik di salah satu episode sinetron “Anak Kaki Gunung”. Eliana, si anak perempuan pemberani dan sangat ingin diakui keberadaannya itu, melakukan satu tindakan yang mengundang warga kampung mereka berbondong-bondong ke musholla. Yup! Adzan, panggilan untuk sholat dan berjamaah di masjid atau musholla ataupun langgar. Tak ayal lagi, panggilan adzan Eliana ini mengejutkan sekaligus menggegerkan warga kampung. Akhirnya warga pun segera menuju musholla. Entah karena memang ingin sholat berjamaah di sana, atau hanya karena penasaran dan marah dengan suara di balik adzan kali ini.

Singkat kata, Eliana pun disidang. Warga dengan marah menyalahkan tindakannya. Mereka bahkan mempertanyakan siapa yang mengajarinya bertingkah seperti itu. Tak pernahkah ia diajarkan yang benar oleh orang tuanya? Pengajaran apa yang didapatkan selama ia pergi mengaji?

Apa sebenarnya niat Eliana beradzan? Emansipasikah? Atau pembuktian diri? Apapun yang dilakukannya, pastinya ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari adzannya seorang perempuan. Lihatlah bagaimana dengan adzannya Eliana, yang notabene suaranya lebih indah dibandingkan suara adzan para muadzin laki-laki, dapat membuat musholla mereka penuh! Walaupun mungkin kedatangan mereka lebih banyak dikarenakan penasaran dengan siapa yang beradzan! Lihatlah pula bahwa adzan dengan suara merdu akan bisa menggetarkan hati para pendengarnya, sehingga para muadzin tentu harus banyak belajar memperindah suara adzan mereka. (Anda tentunya masih ingat dengan kisah Bilal bin Robah!) Adzannya Eliana mengingatkan kita bahwa betapa perempuanpun ingin sekali memiliki hak yang sama dalam hal ibadah kepada sang Khalik.

Namun perlu diingat bahwa sunatullah tetaplah sunatullah. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Bagaimana air akan mendidih ketika kita memasaknya hingga tingkat kepanasan yang tinggi. Bagaimana pisang akan matang ketika kita mengimbunya. Bagaimana hujan akan selalu turun membasahi bumi. Itulah bukti ketaatan ciptaan Allah SWT terhadap kodrat mereka. Demikian juga halnya dengan manusia. Ada hukum dan aturan yang jelas tentang praktek ibadah. Adzan hanya boleh dilakukan oleh kaum laki-laki. Itulah yang tercantum dalam kitab Al Quran, pegangan hidup kita.

Seberapapun besarnya emansipasi perempuan yang dicanangkan oleh para kaum feminis, ada batasan-batasan yang tetap harus kita taati sebagai makhluk Allah SWT. Sunatullah, suratan takdir Allah, menjadi salah satu pegangan kita dalam menjalankan kehidupan di dunia. Tak bisa kita mengabaikan aturannya, tak boleh pula kita mengesampingkan keberadaannya. Perempuan tetaplah perempuan. Yang memiliki hak dan keistimewaannya sendiri. Mengandung, melahirkan, menyusui adalah sunatullah yang tidak bisa digantikan oleh kaum adam.

Adzan sejatinya adalah hak dan kewajiban kaum laki-laki. Maka biarkanlah tugas itu diserahkan kepada mereka. Perempuan? Cukup menjawab setiap lantunan adzan dan menikmati setiap makna tersirat dibalik indahnya kalimat Allah tersebut.