Dampak ambruknya jembatan Cisanggiri, Garut, semakin menyedihkan. Bukan saja bagi para pelajar yang harus menentang rintangan dan bahaya menyebrangi sungai besar itu untuk menimba ilmu, namun juga bagi sebagian masyarakat Garut yang desanya terisolir.

Sebut saja desa Cadas Bodas. Berdasarkan pemberitaan liputan 6 petang, masyarakat desa tersebut mengalami kelaparan akibat pasokan beras yang tidak bisa didapat. Warga miskin itu sudah kesulitan untuk mendapatkan beras karena akses menuju desa lain terputus. Sebagai penggantinya, mereka makan umbi gadung yang didapat dari hutan. Umbi gadung adalah sejenis umbi-umbian yang beracun. Untuk menghilangkan racunnya, umbi tersebut harus dicuci bersih dan dikeringkan selama 2 hingga 3 hari sebelum akhirnya bisa dikonsumsi.

Betapa miris nasib sebagian warga miskin yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan kita. Belum ada sedikitpun usaha pemerintah daerah Garut untuk memperbaiki jembatan yang rusak itu. Padahal jembatan itu sebagai salah satu urat nadi kehidupan dan perekonomian masyarakat setempat.

Sementara di sisi lain, pemerintah pusat baru saja merampungkan renovasi salah satu ruang DPR nya yang menghabiskan dana sebesar 20 milyar rupiah dan 14 milyarnya hanya untuk mengganti furniturnya saja! Dari keterangan Badan Kehormatan DPR, Siswono Yudohusodo, anggaran sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tidak ada diketemukan hal yang salah atau ganjil dari anggaran itu. Yang menjadi pertanyaan adalah peraturan seperti apa yang membolehkan pemerintah mengeluarkan uang 14 milyar rupiah hanya untuk membeli furnitur baru? Apakah ini dampak dari otonomi daerah yang dicanangkan sejak beberapa tahun yang lalu? Pemerintah daerah dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri, walaupun sangat ironis dengan apa yang mereka lakukan di pemerintah pusat?

Pak wakil rakyat, tidak bisakah kau sumbangkan 1 milyar saja untuk membangun kembali jembatan Cisanggiri yang sudah rusak itu? Saya rasa akan lebih banyak masyarakat yang terbantu dengan pembangunan jembatan dibandingkan menggantikan kursi empuk anggota DPR yang semakin nyaman duduk dan bertengger di sana?

Dimana hati nuranimu, duhai wakil rakyat?