Drama air mata terulang lagi. Kali ini dia benar-benar tak menyangka. Berita yang didengar bukan saja membuatnya terkejut. Namun, tak habis pikir, kalau pikiran mereka sepicik itu.

“Nilai kamu jelek di bagian loyalitas”

“Maksud bapak?”

“Kamu masih ingat kan kasus pengangkatan semi tetapmu?”

Tentu saja dia ingat. Peristiwa beberapa tahun lalu yang membuat status semi tetapnya dibatalkan gara-gara keikutsertaannya di ujian cpns.

“Jadi, kesalahan beberapa tahun lalu masih menjadi penilaian tingkat loyalitas saya pak? Subhanallah. Pantas saja. Ini tahun ke tujuh saya mengabdi di sini, dan tidak pernah ada pengangkatan. Kalau kesalahan masa lalu menjadi pegangan untuk menilai kinerja tahun sekarang, ya saya ga akan pernah dapat nilai bagus dong, pak.” Dia berkilah.

“Oke, itu masa lalu. Tapi, ketidakloyalan kamu sekarang dikarenakan keikutsertaan mu dalam mengikuti program beasiswa S2 itu.”

“Innalillahi. Bagaimana bisa keinginan untuk melanjutkan studi menjadi tolak ukur bahwa kita tidak loyal, pak? Saya berniat mengembangkan diri, loh pak. Seperti yang digembor-gemborkan oleh pimpinan tertinggi kita. Kembangkanlah dirimu, raihlah ilmu setinggi-tingginya, kejarlah gelar mastermu! Lalu, apa artinya semua itu, jika keinginan kita melanjutkan studi bertanda bahwa kita tidak loyal?”

Dia semakin tak kuat mendengarnya. Ini sudah tidak masuk akal. Adakah organisasi yang melarang personelnya untuk mengembangkan diri? Entah alasan apa yang mereka gunakan hingga hal seperti ini seolah-olah bukan sebuah pilihan penting di sini.

Dia sangat sedih. Tak terasa titik air mata mulai terlepas dari bendungannya. Jebol sudah pertahanannya. Pupus sudah harapan dan impiannya. Ketika niat baik diartikan salah oleh pimpinan, akankah kita sanggup untuk mempertahankan idealisme kita?

“Kamu kan tahu peraturan di sini. Jika ingin melanjutkan studi, maka harus dicari waktu yang tidak mengambil waktu bekerja kita. Maka hanya diperbolehkan kuliah di hari sabtu dan minggu. Di luar dari itu, mohon maaf, tidak ada dispensasi apapun. Jangankan kamu yang tidak berprestasi, orang yang sudah dianggap bagus pun tidak mampu dipertahankan oleh kebijakan di sini.”

“Dengan kata lain, tidak akan pernah bisa saya melanjutkan studi melalui program beasiswa ke luar negeri, ya pak?”

Pilihannya adalah kuliah dan keluar, atau mengabdi selamanya. Sungguh kebijakan yang aneh, picik dan tidak cerdas. Saat orang lain sudah mulai berlomba mengembangkan diri, di sini mereka dituntut untuk cukup bekerja saja dan menikmati hidupnya dari hasil kerjanya. Untuk pribadi-pribadi yang tidak punya mimpi dan cukup puas dan nyaman dengan keadaannya sekarang, tentu kebijakan itu menguntungkan bagi mereka. Artinya, mereka tidak perlu bersusah payah untuk kuliah lagi, mengembangkan diri. Dengan ijazah yang ada saat ini sudah lebih dari cukup untuk bekerja dan berkarir di sini.

“Nah, karena kamu siap keluar jika kamu lulus beasiswa itulah yang mencirikan bahwa kamu tidak loyal dengan organisasi disini. Maka, kamu harus siap menentukan langkah kamu selanjutnya dengan segera. All out di sini, atau leave”.

Sungguh pilihan yang sulit. Dia tidak tahu jalan apa yang harus ditempuh. Beban rasa ini sungguh berat dipikul. Seolah-olah datang bertubi-tubi, menghantamnya keras membuatnya terjungkal. Dia hampir tak sanggup menghadapinya. Ketika keberadaan kita sudah tidak dihargai lagi, akankah kita mampu bertahan? Ketika mimpi terhalang kebijakan, akankah dunia akan mendukung kita?

Tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah semata. Dia serahkan semua pada Yang Maha Memiliki dirinya. Dia pasrahkan semua pada Yang Maha Penentu. Dia panjatkan doa pada Yang Maha Penerima Taubat. Tentu hanya Dialah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk hambanya.

Semoga akan dibukakan hati dan pikiran mereka yang picik, yang tidak senang melihat orang senang, yang tidak bahagia melihat ada kebahagiaan di tengah-tengah mereka. Amin.